Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mengatakan terbuka untuk berkomunikasi kembali dengan Jepang dengan syarat Perdana Menteri Sanae Takaichi mau menarik ucapannya yang dianggap keliru oleh Beijing soal Taiwan.
"Jika pihak Jepang benar-benar ingin mengembangkan hubungan strategis yang saling menguntungkan dengan China, yang perlu dilakukan sederhana dan jelas, yaitu, menarik kembali pernyataan Takaichi yang keliru tentang Taiwan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (10/2).
PM Sanae Takaichi pada Senin (9/2) mengatakan bahwa ia bermaksud menjaga saluran dialog dengan China tetap terbuka meskipun hubungan bilateral sedang tegang.
"Justru karena ada kekhawatiran dan tantangan antara Jepang dan China, komunikasi menjadi penting. Jepang terbuka untuk berbagai bentuk dialog," kata Takaichi dalam konferensi pers setelah kemenangan pemilu.
Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Takaichi memenangkan pemilu majelis rendah Jepang dengan kemenangan terbesar sejak partai dibentuk pada 1955 dengan menduduki 316 kursi dari 465 kursi yang diperebutkan.
"China telah menjelaskan posisinya mengenai masalah ini lebih dari sekali. Dialog sejati dibangun atas dasar saling menghormati dan menjunjung tinggi kesepakatan yang telah dibuat," ungkap Lin Jian.
Lin Jian pun menyebut China mencermati apakah pernyataan Takaichi sesuai dengan tindakan di lapangan atau malah berlawanan.
"Jika ada yang hanya berbicara tentang perlunya dialog sambil terus memicu konfrontasi, maka apa yang disebut 'dialog' ini jelas tidak dapat diterima. Kami meminta Jepang mematuhi empat dokumen politik antara China dan Jepang serta mengambil tindakan nyata untuk menunjukkan ketulusannya dalam berdialog," jelas Lin Jian.
Takaichi menjadi perempuan pertama yang menjadi perdana menteri di Jepang pada Oktober 2025 lalu. Ia kerap menyebut mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yang dijuluki "Iron Lady" sebagai inspirasinya dan janjinya untuk "bekerja, bekerja, bekerja".
Ia juga mendukung hubungan yang lebih dekat dengan Amerika Serikat (AS) dan mengatakan akan mengunjungi Washington bulan depan serta akan kembali bertemu Presiden AS Donald Trump untuk membahas tantangan global.
Sebelumnya pada 7 November 2025, PM Sanae Takaichi mengatakan penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan, dapat "menimbulkan situasi yang mengancam kelangsungan hidup bagi Jepang" masih menimbulkan ketegangan dalam hubungan China-Jepang.
Pernyataan itu dipahami bahwa pemerintah Jepang mengizinkan Pasukan Bela Diri bertindak untuk mendukung Taiwan jika China memberlakukan blokade maritim terhadap Taiwan atau melakukan bentuk tekanan lainnya.
Atas pernyataan Takaichi itu, China sudah melakukan sejumlah tindakan balasan antara lain dengan menangguhkan kembali impor produk laut Jepang, memutus pertemuan pejabat tinggi pemerintah, menyarankan warganya untuk tidak bepergian maupun belajar di Jepang, menghentikan rilis film Jepang, hingga berjanji untuk membalas dengan tegas jika Tokyo terlibat secara militer dalam urusan Taiwan.
Selain itu, dua jet tempur J-15 Angkatan Laut China sebanyak dua kali mengunci radar mereka secara bergantian ke pesawat F-15 Pasukan Bela Diri Udara Jepang (ASDF) di atas laut lepas di sebelah tenggara Okinawa pada Sabtu (6/12). Tindakan tersebut juga memicu protes dari Jepang.
Baca juga: China tegaskan kebijakan ke Jepang tak berubah usai Takaichi menang
Baca juga: Jepang soroti pentingnya hubungan AS-Tiongkok untuk stabilitas global
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































