Sudan buka peluang kerja sama bisnis dan pendidikan dengan Indonesia

3 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Sudan membuka peluang kerja sama luas dengan Indonesia, khususnya di bidang bisnis, budaya, dan pendidikan.

Pernyataan ini disampaikan Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Dr. Yassir Mohammed Ali, saat temu media di Jakarta, Rabu.

Dubes Yassir mengatakan, upaya tersebut bertujuan memperkuat hubungan ekonomi dan sosial kedua negara sekaligus mendukung stabilitas nasional Sudan.

"Pemerintah Sudan terus berupaya meningkatkan stabilitas nasional demi memperkuat kolaborasi tersebut," ujarnya.

Ia menekankan sejarah panjang hubungan Indonesia–Sudan, termasuk peran ulama Sudan, seperti Syekh Ahmad Surkati, yang berdakwah di Indonesia lebih dari seabad lalu.

Syekh Ahmad Surkati adalah ulama asal Sudan yang sebelumnya mengajar di Masjidil Haram, Mekkah. Dia datang ke Indonesia pada 1912, mendirikan organisasi dakwah dan pendidikan Al Irsyad, serta ikut memperkuat semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Ketika wafat pada 1943, Presiden Sukarno datang melayat dan mengantar jenazahnya ke pemakaman, sebagai bentuk penghormatan negara.

Dubes Yassir mendorong kerja sama di bidang pendidikan, meliputi pertukaran mahasiswa, beasiswa, dan penelitian, serta di bidang budaya melalui pertukaran seni dan promosi warisan budaya.

Ia mengatakan jumlah mahasiswa Sudan yang belajar di Indonesia masih relatif terbatas.

"Untuk angkanya belum ada angka resmi yang dikeluarkan," ujar dia.

Jumlah mahasiswa Indonesia yang saat ini terdata belajar di Sudan sekitar 838 orang. Data ini berasal dari laporan Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) yang mencatat jumlah pelajar Indonesia yang terdaftar di negara itu sebelum dan saat konflik berlangsung.

Di sektor bisnis, peluang investasi dan perdagangan terus diperluas, khususnya di energi, pertanian, dan perdagangan umum.

Terkait perdagangan bilateral, Dubes Yassir menyebut nilainya masih relatif kecil, kurang dari 50 juta dolar AS (sekitar 839,4 miliar rupiah). Indonesia mengekspor pakaian, kosmetik, farmasi, dan minyak sawit, sementara Sudan mengekspor kacang, wijen, dan kapas.

“Volume perdagangan masih kecil, sehingga potensi peningkatan sangat besar. Pemerintah Sudan mengundang investor Indonesia untuk menanamkan investasi dan siap memfasilitasi kebutuhan terkait lahan, izin, dan keamanan,” kata dia.

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |