Istana: Insiden siswa SD di NTT jadi atensi Presiden Prabowo

2 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga Juru Bicara Presiden RI, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap insiden tragis siswa SD yang mengakhiri hidupnya di NTT, sekaligus menyatakan kejadian tersebut telah menjadi atensi Presiden Prabowo Subianto.

"Kami tentunya mewakili pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam, dan kami telah berkoordinasi dengan jajaran terkait, karena bagi kami, bagi kita semua, ini adalah kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi," kata Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2) malam.

"Oleh karena itulah, Bapak Presiden menaruh atensi, dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal semacam ini dapat kita antisipasi," sambung Prasetyo Hadi.

Dalam kesempatan yang sama, Prasetyo mengatakan kementeriannya telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, kemudian Menteri Sosial Saifullah Yusuf, untuk memperhatikan kondisi keluarga korban, yang diketahui berada dalam kategori miskin ekstrem (desil-1). Pras menambahkan dirinya juga telah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk melakukan penanganan-penanganan terhadap keluarga, dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali," ujar Pras, sapaan akrab Prasetyo.

Terkait dengan adanya informasi keluarga korban tidak mendapatkan bantuan sosial (bansos), karena persoalan administrasi, Pras menyatakan pemerintah menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

"Biarlah kita tunggu dari pihak berwajib, pihak kepolisian untuk melakukan pendalaman," kata Mensesneg Prasetyo Hadi.

Pras kemudian menekankan pentingnya merawat kepedulian sosial di seluruh tingkatan.

"Kita harus meningkatkan kepedulian sosial di antara kita semua dari setiap level, tingkatan," ujar Pras.

Baca juga: Gubernur NTT sebut orang tua bocah yang bunuh diri tak terima bansos

"Bagaimana pun selain di faktor keluarga, faktor lingkungan, juga di sekolah menjadi sangat penting, edukasi, dan terutama berkenaan dengan masalah mental adik-adik kita supaya jika mengalami sebuah tekanan, atau mengalami sebuah permasalahan untuk dapat menyampaikan kepada guru-guru mereka di sekolah. Semua upaya kita coba cari supaya kita mengantisipasi, supaya tidak terjadi kembali," sambung Pras.

Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama
”.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Puan sebut psikologis anak harus jadi perhatian usai ada kasus di NTT

Baca juga: Menko PM respons insiden tragis siswa SD di NTT, minta pemda terbuka

Baca juga: Kemendikdasmen selidiki insiden tragis siswa SD di NTT

Baca juga: Mensos prihatin insiden siswa SD di NTT, janji perkuat pendampingan

Pewarta: Genta Tenri Mawangi, Maria Cicilia Galuh
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |