Jakarta (ANTARA) -
Pelaku industri pariwisata perlu menyiapkan strategi mitigasi krisis untuk menghadapi gangguan transportasi massal yang dapat menurunkan kepuasan dan kepercayaan wisatawan, menurut pengamat pariwisata Universitas Andalas Sari Lenggogeni.
“Ini termasuk krisis buatan manusia. Dampak negatif harus segera diperbaiki melalui pemulihan krisis, meningkatkan kepercayaan, kebahagiaan, dan pengalaman mereka agar perjalanan tetap menyenangkan,” kata Sari ketika dihubungi ANTARA, Senin (9/2).
Sari menjelaskan gangguan transportasi, seperti keterlambatan atau pembatalan penerbangan, dapat menimbulkan risiko nyata bagi wisatawan.
Baca juga: Gangguan penerbangan picu kerugian sektor wisata
Mereka berpotensi kehilangan malam menginap, agenda tur, atau pengalaman wisata lainnya. Kondisi ini memengaruhi psikologi wisatawan sehingga keputusan perjalanan berikutnya bisa bergeser, tertunda, atau dibatalkan.
Sebelumnya, laporan media perjalanan Travel and Tour World mencatat sejumlah keterlambatan dan pembatalan penerbangan di kawasan Asia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta. Meski demikian, pihak bandara Soetta menegaskan operasional penerbangan tetap berjalan lancar.
Dalam menghadapi risiko ini, Sari menyarankan pelaku industri pariwisata melakukan sejumlah langkah mitigasi. Pertama, komunikasi langsung dan sistem penanganan gangguan secara cepat sangat penting.
Baca juga: ICPI dorong strategi antisipatif hadapi gangguan transportasi
Kedua, penyediaan fasilitas tambahan bagi wisatawan yang terdampak, seperti hotel, makanan, atau pengembalian dana. Strategi destinasi juga harus disiapkan, misalnya dengan sistem cadangan wisata pintar.
Selain itu, mitigasi sebelum krisis terjadi juga diperlukan. Contohnya fleksibilitas check-in hotel, paket khusus untuk kedatangan terlambat, dan asuransi yang memadai.
Pemulihan pengalaman wisatawan bisa dilakukan melalui kegiatan pengganti seperti wisata malam, panduan wisata digital, atau aktivitas tambahan agar kepuasan tetap terjaga.
Baca juga: Pengamat nilai gangguan penerbangan berdampak ke kenyamanan perjalanan
Sari menekankan pentingnya komunikasi risiko destinasi melalui berbagai saluran informasi dan papan informasi perjalanan secara langsung, agar wisatawan selalu mendapat informasi akurat dan tidak merasa terkecoh.
“Industri pariwisata tidak hanya menjaga ekonomi, tetapi juga membangun kepercayaan dari luar terhadap Indonesia. Peran ini penting untuk reputasi negara, baik antarwarga maupun antara pemerintah dan masyarakat,” kata Sari.
Langkah-langkah mitigasi ini dinilai krusial agar wisatawan tetap memiliki pengalaman positif meski menghadapi gangguan transportasi, sekaligus memperkuat ketahanan dan citra sektor pariwisata Indonesia di mata dunia.
Baca juga: AirNav mitigasi gangguan penerbangan akibat cuaca ekstrem akhir tahun
Baca juga: Menhub minta otoritas bandara perkuat koordinasi gangguan layangan
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































