Jakarta (ANTARA) - Kalangan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang juga pengguna kompor induksi, menyatakan efisiensi biaya operasional dan kemudahan fitur teknologi pemanas elektrik menjadi solusi nyata bagi rumah tangga di tengah tantangan lonjakan harga energi dunia.
Pemilik usaha martabak di Jakarta, Andi Arif mengatakan investasi awal kompor listrik jauh lebih ekonomis karena selain harga gas yang fluktuatif, pengguna juga tidak lagi terbebani biaya pembelian tabung gas baru.
"Dari sisi operasional kenaikan tagihan listriknya hanya sekitar Rp30.000 per bulan,” ujar dia di Jakarta, Jumat, terkait wacana program kompor listrik bersubsidi yang akan diterapkan kembali oleh pemerintah.
Menurut perhitungannya, tambahan biaya listrik bulanan tersebut sangat kompetitif jika dibandingkan dengan pengeluaran rutin untuk pengisian tabung gas yang saat ini terus merangkak naik.
Senada dengan itu pelaku UMKM katering rumahan, Siti Sarah (45), merasakan langsung dampak positif peralihan ke kompor listrik terhadap efisiensi usahanya.
Baca juga: Pemerintah diminta perkuat program kompor listrik bersubsidi
Baca juga: Ekonom dukung transisi kompor listrik guna kurangi beban subsidi LPG
Menurut dia, penggunaan kompor induksi membuat biaya produksi jauh lebih hemat sehingga keuntungan atau cuan yang didapat dari setiap pesanan menjadi lebih maksimal dibandingkan saat masih menggunakan LPG.
"Sejak pakai kompor listrik, pengeluaran untuk energi masak jadi lebih stabil dan murah, sisa uangnya bisa buat tambahan modal bahan baku. Masaknya juga lebih cepat dan bersih, saya jadi lebih produktif terima banyak pesanan tiap hari," ujar Siti.
Sementara itu Hevy Prasmawati, seorang ibu rumah tangga menambahkan keunggulan kompor listrik yang memiliki panas lebih stabil dan merata pada masakan.
Hasil masakan pun menjadi lebih presisi. Selain itu, Hevy juga mengapresiasi fitur pintar seperti mode otomatis untuk menggoreng hingga mengukus, yang memberikan kemudahan sekaligus rasa aman lebih bagi penghuni rumah.
Dia mengatakan penggunaan alat masak berbahan komposit yang dirancang khusus untuk induksi menjadi kunci utama untuk mendapatkan hasil maksimal.
Meski perangkat ini memiliki daya sekitar 1.300 watt, penggunaan alat masak yang tepat justru mempercepat proses pematangan sehingga konsumsi daya tetap terkendali secara efektif.
Menurut dia, dengan segala kemudahan dan penghematan biaya jangka panjangnya, transisi ke perangkat memasak elektrik kini dipandang bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga maupun pelaku usaha kecil.
"Kompor listrik kini bukan sekadar gaya hidup, melainkan solusi nyata untuk tetap hemat di tengah tantangan energi dunia," kata Hevy.
Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak masyarakat agar lebih menghemat pasokan gas dengan cara yang paling sederhana.
Menurut dia, cara tersebut adalah dengan tidak boros menggunakan LPG, maka, ketika masakan sudah matang sebaiknya langsung mematikan penggunaan gas tersebut.
Dalam konferensi pers di Colomadu, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Kamis (26/3). Bahlil pun menyebutkan bahwa kompor listrik bisa menjadi alternatif bagi masyarakat di tengah isu melonjaknya harga minyak global.
Sementara itu Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyatakan siap mendukung upaya pemerintah mempercepat proses elektrifikasi, baik di sektor transportasi, industri, serta memasak menggunakan kompor listrik.
Dia menyatakan transisi dari kompor yang memasak menggunakan LPG menjadi kompor listrik membutuhkan biaya yang lebih murah apabila dibandingkan dengan biaya yang digelontorkan untuk subsidi impor LPG.
“Kami sudah hitung, masih akan lebih murah (transisi ke kompor listrik) daripada mengimpor LPG," ujar Eddy kepada ANTARA ketika dihubungi dari Jakarta, Senin (23/3).
Menurut dia, biaya yang dihitung untuk transisi ke kompor listrik meliputi pemberian kompor listrik, dua wajan penggorengan, serta pemasangan sambungan listrik terpisah secara gratis.
Berdasarkan perhitungan tersebut, tambahnya, biaya yang dibutuhkan lebih ringan apabila dibandingkan dengan beban subsidi untuk menekan harga LPG.
Baca juga: MPR: Transisi ke kompor listrik lebih murah dibandingkan impor LPG
Baca juga: KESDM menerbitkan aturan penyediaan alat memasak listrik rumah tangga
Pewarta: Subagyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































