Serba serbi - Perundingan nuklir Iran-AS: Progres di tengah tekanan

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berlangsung kendati dilakukan melalui negara mediator. Pertemuan terbaru di Jenewa yang dimediasi Oman, menunjukkan adanya kemajuan dalam perumusan prinsip-prinsip negosiasi, meski belum menghasilkan kesepakatan final.

Di tengah proses diplomasi tersebut, hubungan kedua negara tetap berada dalam ketegangan tinggi. Tekanan militer dan diplomatik berjalan beriringan, sementara perbedaan mendasar masih lebar dan risiko eskalasi tetap terbuka.

Berikut serba-serbi perundingan nuklir antara Iran-AS.

Perkembangan perundingan

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa perundingan terakhir dengan Iran berlangsung produktif dalam beberapa aspek. Namun, ia menegaskan belum ada pembahasan mengenai sejumlah “garis merah” yang ditetapkan Presiden Donald Trump. Menurutnya, kepentingan utama Washington adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Dari pihak Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga menyampaikan sinyal positif. Ia mengatakan pertemuan di Jenewa berlangsung lebih konstruktif dan mencatat adanya kemajuan.

Kedua pihak, menurut Araghchi, akan menyusun rancangan (draf) potensi kesepakatan dan saling bertukar naskah sebelum menentukan jadwal putaran pembicaraan berikutnya.

Ia menambahkan bahwa terdapat jalur yang jelas ke depan untuk negosiasi nuklir dengan pihak Amerika, yang dinilai positif dari perspektif Iran.

Pergerakan AS di Timur Tengah

Sementara diplomasi berjalan, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Washington mengerahkan kapal induk, kapal perang, pesawat tempur, serta sistem pertahanan ke wilayah Teluk Persia dan Laut Arab sebagai bagian dari strategi tekanan dan pencegahan terhadap Iran.

Laporan The New York Times menyebutkan bahwa pesawat pembom siluman B-2 dan sejumlah pesawat tempur AS lainnya berada pada tingkat kesiapsiagaan lebih tinggi dari biasanya. Pentagon juga memperkuat aset militer di kawasan tersebut.

Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal pengawal berpeluru kendali Tomahawk menjadi bagian dari belasan kapal AS yang beroperasi di Laut Arab, Teluk Persia, Laut Merah, dan wilayah timur Laut Mediterania. Jet tempur F-35, F/A-18, dan F-15E juga dikerahkan untuk memperkuat jangkauan serang

AS juga telah mengirim lebih banyak jet serang F-15E ke kawasan tersebut.

Penguatan pertahanan militer Iran

Di sisi lain, Iran juga memperlihatkan penguatan pertahanan militernya. Angkatan Laut (AL) Iran dan Rusia, Kamis (19/2) menggelar latihan gabungan di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara di tengah meningkatnya spekulasi mengenai kemungkinan serangan AS ke Iran.

Latihan tersebut melibatkan berbagai alutsista, di antaranya kapal perusak Alvand milik Iran, kapal perang peluncur rudal, helikopter, kapal pendarat, tim operasi khusus, dan speedboat tempur. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Rusia juga melaksanakan operasi pembebasan kapal yang dibajak.

Latihan itu digelar menyusul latihan militer IRGC di Selat Hormuz sebelumnya yang melibatkan penutupan sementara jalur perairan strategis tersebut.

Kepala Angkatan Laut IRGC Laksamana Muda Alireza Tangsiri mengatakan latihan militer berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz, dengan pulau-pulau di kawasan tersebut berfungsi sebagai "benteng pertahanan".

Posisi dan target negosiasi AS

Dalam posisi negosiasinya, Washington menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup larangan pengayaan uranium, penghapusan material yang telah diperkaya, pembatasan rudal jarak jauh, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional.

Pemerintah AS secara resmi menyatakan bahwa diplomasi adalah opsi utama, namun Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa AS bisa menyerang Iran jika negara itu menolak membatasi program nuklirnya.

Posisi dan target negosiasi Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan meninggalkan teknologi nuklir yang disebutnya bersifat damai, tetapi terbuka terhadap segala bentuk verifikasi untuk membuktikan bahwa program tersebut tidak ditujukan untuk persenjataan.

Ancaman dan respons

Trump juga menyebut Iran memiliki waktu terbatas untuk mencapai kesepakatan. Trump mengatakan Iran memiliki waktu 10-15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.

Jika tidak, ia memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” dapat terjadi. Menanggapi hal itu, perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa Teheran akan membalas secara tegas dan proporsional setiap agresi militer, serta menyatakan AS akan memikul "tanggung jawab penuh dan langsung" atas konsekuensinya.​​

Pandangan pengamat

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii menilai mediasi Oman membuka ruang titik temu bagi kedua negara. Menurut Muhammad Syaroni Rofii, untuk sementara waktu krisis militer dapat ditekan dan opsi serangan bukan menjadi pilihan utama.

"Itu artinya, untuk beberapa waktu krisis militer bisa dicegah dan potensi serangan militer oleh AS tidak menjadi opsi utama," katanya.

Ia menambahkan bahwa ketegangan yang melibatkan negara-negara kunci seperti Iran tetap berpotensi menimbulkan dampak luas, termasuk terhadap Indonesia.

Baca juga: AS tarik pasukan di Qatar dan Bahrain di tengah ketegangan dengan Iran

Baca juga: Pengamat: Diplomasi nuklir Iran-AS arah positif, dampak langsung ke RI

Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |