Jakarta (ANTARA) -
Psikolog klinis sekaligus relawan Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Aceh Tamiang dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) Anna Aulia, M.Psi., Psikolog, menyebut anak-anak dan lansia sebagai kelompok paling rentan mengalami trauma saat bencana.
"Anak tidak selalu bisa bilang dia takut atau sedih. Biasanya terlihat dari perilaku, misalnya jadi tantrum, mudah marah, atau menangis terus,” ujar Anna dalam wawancara khusus dengan ANTARA di Antara Heritage Center, Jakarta, Sabtu.
Anak menjadi kelompok pertama yang perlu diperhatikan karena belum mampu mengekspresikan emosi secara verbal.
Baca juga: Relawan TCK Kemenkes beri layanan dan petakan penyakit di Aceh Tamiang
Dia menjelaskan trauma yang tidak ditangani dapat memengaruhi konsentrasi dan proses belajar anak. Dalam jangka panjang, kondisi emosional yang tidak stabil dapat mengganggu tumbuh kembang.
Selain anak, lansia juga masuk kategori rentan. Anna menilai pendekatan terhadap lansia cenderung lebih sulit karena banyak dari mereka hidup sendiri atau terpisah dari keluarga saat bencana terjadi.
"Lansia biasanya lebih lama untuk didekati. Mereka memikirkan kehilangan, jauh dari anak dan keluarga," kata dia.
Kelompok orang dewasa, meskipun kategorinya bukan paling rentan seperti anak-anak dan lansia, juga berpotensi mengalami trauma ketika terjadi bencana, terutama jika kehilangan pekerjaan, rumah, atau anggota keluarga. Tapi, orang dewasa umumnya lebih mampu mengungkapkan kondisi emosinya dibanding anak.
Dalam praktik di Aceh Tamiang, Anna dan tim melakukan penyaringan awal untuk mengidentifikasi penyintas dengan indikasi trauma berat. Mereka yang terindikasi diberikan trauma healing (pemulihan trauma), sementara layanan psikososial diberikan secara luas untuk membangun kembali rasa aman dan koneksi sosial.
Anna menegaskan dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.
"Relawan hanya fasilitator. Yang paling berperan adalah lingkungan terdekatnya," kata dia.
Penerjunan relawan TCK di Aceh merupakan bagian dari program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam memperkuat layanan kesehatan pascabencana banjir di Aceh.
Kemenkes mengerahkan TCK untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, termasuk dukungan kesehatan mental bagi masyarakat terdampak.
Baca juga: Indosat sebut jaringan di wilayah bencana Sumatra telah pulih total
Baca juga: BRIN ingatkan pentingnya keagamaan dalam pemulihan trauma pascabencana
Baca juga: Dinkes Aceh Tamiang catat 14.143 kasus ISPA pascabanjir bandang
Baca juga: Aceh Tamiang laporkan 98 persen UMKM mulai aktif pascabencana banjir
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































