Retak moral di rumah

1 week ago 9

Mataram (ANTARA) - Di sebuah jalur sunyi di Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), masyarakat dikejutkan oleh temuan yang melampaui nalar sehat.

Sesosok jasad perempuan ditemukan hangus di tumpukan sampah di tepi jalan, menghadirkan kengerian, sekaligus pertanyaan yang segera menyebar dari mulut ke mulut.

Awalnya, peristiwa ini tampak seperti misteri kriminal yang menuntut kerja forensik dan penyelidikan kepolisian. Teka-teki itu segera berubah menjadi tragedi yang lebih dalam, ketika identitas korban terungkap. Ia seorang ibu, dan pelakunya adalah anak kandungnya sendiri.

Pada titik inilah peristiwa Sekotong berhenti menjadi sekadar perkara hukum. Ia menjelma cermin retak relasi paling dasar dalam kehidupan manusia, yakni hubungan anak dan ibu. Relasi yang selama ini diyakini sebagai benteng terakhir nilai, kasih, dan pengorbanan.

Ketika benteng itu runtuh, publik tak hanya bertanya tentang motif dan hukuman, tetapi juga tentang apa yang sesungguhnya sedang rapuh dalam kehidupan bersama.

Kasus Sekotong penting ditelaah bukan semata karena kekejamannya. Ia penting karena membuka lapisan persoalan yang lebih dalam dan lebih sunyi.

Kekerasan ekstrem di ruang domestik, yang berujung pada penghilangan nyawa orang tua, menandai kegagalan berlapis, mulai dari tingkat keluarga, lingkungan sosial, hingga sistem negara yang semestinya menjadi pagar pencegah.

Mari kita membaca peristiwa ini dengan kacamata moral dan melihat fakta secara jernih, tanpa mengaburkannya, namun juga tanpa terjebak pada sensasi dan kemarahan sesaat.


Kekerasan

Fakta-fakta perkara menunjukkan rangkaian tindakan yang dingin dan terencana. Motifnya sederhana, bahkan banal, yakni permintaan uang yang tidak dipenuhi. Tidak ada ideologi, tidak ada konflik panjang yang tercatat di ruang publik. Hanya kekecewaan, kemarahan, dan keputusan fatal.

Justru kesederhanaan motif inilah yang mengguncang kesadaran kolektif. Jika nyawa seorang ibu dapat dilenyapkan karena nominal tertentu, maka yang runtuh bukan hanya kendali emosi pelaku, melainkan bangunan nilai yang selama ini diyakini menjaga keutuhan keluarga.

Dalam tradisi sosial Indonesia, ibu menempati posisi yang nyaris sakral. Ia sumber kehidupan, pengasuh pertama, dan penyangga moral keluarga. Banyak nilai dasar tentang empati, kesabaran, dan pengorbanan—pertama kali diperkenalkan melalui figur ibu.

Melukai ibu, bukan sekadar melanggar hukum pidana, tetapi menabrak norma etika, budaya, dan agama sekaligus. Karena itu, pembunuhan ibu oleh anak kandung hampir selalu memantik kemarahan kolektif. Publik merasa ada batas yang dilampaui, garis merah yang dilanggar.

Hanya saja, kemarahan publik, betapapun wajar, tidak cukup untuk memahami akar persoalan. Kekerasan domestik ekstrem jarang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dalam senyap, dalam ruang yang sering dianggap aman dan privat.

Ia berawal dari relasi kuasa yang timpang, akumulasi frustrasi ekonomi, ketergantungan finansial, dan kegagalan mengelola konflik. Dalam banyak keluarga yang rentan secara sosial-ekonomi, rumah bukan sekadar tempat berlindung, tetapi juga arena tekanan berlapis.

Ketika anak dewasa bergantung secara ekonomi pada orang tua, sementara tuntutan hidup meningkat, relasi yang semestinya setara berubah menjadi penuh gesekan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |