Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut naiknya harga plastik harus dapat menjadi momentum bagi masyarakat dan pemerintah untuk berinovasi mencari pengganti plastik sebagai wadah.
"Kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi. Harus ada substitusinya," kata Pram di Jakarta, Minggu.
Pramono mengatakan penetapan harga dan upaya penanganan kenaikan harga plastik bukan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, melainkan pemerintah Pusat.
Namun, menurut dia, selain berinovasi, naiknya harga plastik juga dapat sebagai momentum bagi semua pihak untuk kembali menggunakan cara membungkus secara tradisional.
"Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka, untuk itu, ya, kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional pakai bungkus, daun pisang, dan sebagainya," kata dia.
Baca juga: Pramono instruksikan pembersihan ikan sapu-sapu di seluruh DKI
Sebelumnya, harga plastik di Indonesia dilaporkan melonjak drastis, naik sekitar 30-70 persen bahkan ada yang mencapai 100 persen pada April 2026, terutama didorong oleh gangguan pasokan bahan baku akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Harga plastik kresek naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per bungkus (pak), sementara jenis lain meningkat dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per bungkus.
Pemerintah Pusat menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk merespons kenaikan harga bahan baku plastik dan berbagai komoditas lain yang terdampak dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Pemprov DKI tindak tegas aksi premanisme usai kejadian di Tanah Abang
Saat memberikan keterangan media di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4), Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah saat ini fokus melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan harga komoditas dunia, sekaligus menyiapkan langkah mitigasi agar dampaknya terhadap industri dan masyarakat dapat ditekan.
Menurut dia, Pemerintah menyadari bahwa gejolak global, termasuk kenaikan harga energi, berpengaruh langsung terhadap sektor industri dalam negeri, salah satunya industri plastik yang bahan bakunya masih impor.
Baca juga: Gaya hidup minim sampah butuh konsistensi dan dukungan lingkungan
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































