Perlindungan anak perlu libatkan keluarga, sekolah, dan pemerintah

5 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Psikolog anak dan keluarga Sani B. Hermawan mengatakan perlindungan anak perlu melibatkan keluarga, sekolah, lingkungan, hingga pemerintah melalui sistem yang ramah anak.

"Upaya melindungi anak tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan keluarga, tetapi juga membutuhkan dukungan dari sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak tidak menjadi korban akibat kesalahan orang dewasa," kata Sani saat dihubungi ANTARA pada Rabu (15/7).

Pernyataan tersebut disampaikan Sani menanggapi kasus seorang orang tua murid yang diduga mengirim pesan ancaman bom pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, pada Senin (13/7). Dalam kasus tersebut, anak pelaku dilaporkan menjadi sasaran perundungan akibat tindakan orang tuanya.

Baca juga: Menteri PPPA ajak semua pihak ciptakan ruang belajar bebas perundungan

Baca juga: Legislator tegaskan tidak boleh ada ruang bagi aksi perundungan

Psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa Indonesia telah memiliki berbagai aturan mengenai perlindungan anak. Namun, implementasinya masih perlu diperkuat melalui sosialisasi kepada masyarakat dan penerapan yang konsisten di lapangan.

"Undang-undangnya ada, kemudian peraturan yang berlaku di masyarakat harus memang digencarkan, disosialisasikan. Jangan sampai anaknya jadi korban justru karena kesalahan orang dewasa di sekitarnya," ujarnya.

Selain itu, Sani mengatakan sekolah perlu mengoptimalkan layanan bimbingan dan konseling (BK) agar anak memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi sekaligus memperoleh pendampingan ketika mengalami tekanan.

"Sistem BK harus berjalan, anak punya ruang aman untuk bercerita, anak diberikan pembekalan atau edukasi, jangan sampai jadi calon pelaku atau calon korban," katanya.

Ia juga menilai keluarga dan sekolah perlu memfasilitasi anak mengembangkan diri melalui kegiatan positif, seperti olahraga, hobi, maupun ajang prestasi, sehingga anak memiliki ruang untuk menyalurkan energi dan membangun kepercayaan diri secara sehat.

"Komunikasi yang sehat bisa membuat anak-anak terhindar dari itu semua. Eksistensi anak perlu diwadahi melalui ajang prestasi, olahraga, maupun hobi sehingga mereka tidak mencari eksistensi dengan membuli orang," ujar Sani.

Baca juga: Psikolog: Anak tak seharusnya menanggung kesalahan orang tua

Baca juga: Wamenag: Gernas RANA wujudkan ruang aman bagi anak dari perundungan

Baca juga: Pemkot Jaksel pastikan MPLS berlangsung aman dan bebas perundungan

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |