Pemkot Jaktim tangani 105 anak tidak sekolah di Duren Sawit

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) menangani sebanyak 105 anak tidak sekolah (ATS) di Kecamatan Duren Sawit, melalui proses verifikasi dan pendampingan secara langsung di lapangan.

"Berdasarkan data awal dari Kementerian Pendidikan, terdapat sekitar 3.080 anak yang tercatat sebagai ATS di wilayah Kecamatan Duren Sawit. Namun, setelah dilakukan verifikasi langsung di lapangan, jumlah tersebut terdata sebanyak 105 anak," kata Camat Duren Sawit Kelik Sutanto saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Dari 105 anak tersebut, sebanyak 75 anak menyatakan berkomitmen untuk kembali melanjutkan pendidikan. Sehingga jajaran lintas sektor Kecamatan Duren Sawit melakukan akselerasi penanganan anak tidak sekolah.

Lalu, dari 75 anak yang berkomitmen melanjutkan pendidikan tersebut, sebanyak 11 anak merupakan penyandang disabilitas.

Anak-anak penyandang disabilitas kemudian disalurkan ke sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di wilayah Jakarta Timur, sesuai dengan kebutuhan pendidikan masing-masing.

Sedangkan, anak tidak sekolah bukan disabilitas, Kecamatan Duren Sawit bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Golden untuk melaksanakan proses belajar mengajar, baik secara daring maupun luring. Kegiatan pembelajaran tersebut dilaksanakan di Kantor Satuan Pelaksana Pendidikan Kecamatan Duren Sawit.

Baca juga: Pemkot catat 13.833 anak di Jakarta Utara tidak bersekolah

Menurut Kelik, sebagian besar anak tidak sekolah berasal dari keluarga kurang mampu. Oleh karena itu, pemerintah melakukan percepatan penanganan agar anak-anak tersebut dapat segera masuk ke dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

"Kita upayakan akselerasi penanganan anak tidak sekolah ini selesai di bulan Agustus, dengan maksud agar mereka masuk data Dapodik. Ketika sudah masuk Dapodik, mereka bisa kita usulkan untuk mendapatkan fasilitas Kartu Jakarta Pintar," jelas Kelik.

Dia berharap, para orang tua turut aktif mendampingi dan membimbing anak-anak dalam mengikuti proses pembelajaran hingga menyelesaikan pendidikan.

"Orang tua harus senantiasa melakukan pendampingan dan membimbing anak-anaknya mengikuti proses belajar mengajar, sehingga nantinya anak tersebut bisa mendapatkan ijazah dan berguna untuk masa depan," ujarnya.

Sementara itu, Kasatlak Pendidikan Wilayah 1 Kecamatan Duren Sawit, Farida Farhah menyebut, penanganan anak tidak sekolah disabilitas memiliki tantangan tersendiri. Pasalnya, Kecamatan Duren Sawit belum memiliki SLB Negeri, sehingga sebagian anak harus mengakses SLB swasta yang membutuhkan biaya.

“Di Duren Sawit tidak ada SLB Negeri, sehingga kami dibantu Kepala Puskesmas untuk mengidentifikasi jenis kebutuhan anak disabilitas," kata Farida.

Penanganan juga melibatkan orang tua asuh yang berasal dari tokoh masyarakat serta unsur kecamatan dan kelurahan.

Para lurah di wilayah Kecamatan Duren Sawit turut berkontribusi dalam mendukung pendidikan anak-anak tidak sekolah, khususnya penyandang disabilitas.

Farida berharap, kolaborasi lintas sektor tersebut dapat memperkuat upaya pemerintah dalam memastikan anak-anak di Kecamatan Duren Sawit mendapatkan kembali hak atas pendidikan, serta memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Baca juga: Pemkot Jaktim perkuat wajib belajar 13 tahun cegah anak tidak sekolah

Baca juga: Pemkot Jakut percepat penanganan anak tidak sekolah

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |