Pemerintah optimistis pertumbuhan kendaraan listrik kian menguat

1 month ago 41

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah menilai pertumbuhan kendaraan listrik nasional menunjukkan tren yang semakin solid di tengah perlambatan pasar otomotif secara keseluruhan sepanjang 2025.

Ketua Tim Kerja Industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Kementerian Perindustrian, Patia Junjungan Maningdo mengatakan bahwa capaian tersebut menjadi sinyal positif atas efektivitas kebijakan transisi menuju kendaraan rendah emisi yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.

“Terus terang dari Kementerian Perindustrian juga di luar dugaan. Di tahun 2025 market share kendaraan listrik sudah mencapai 13 persen,” kata Patia dalam diskusi "Insentif EV Dihapus, Kemana Arah Masa Depan Industri Otomotif di Indonesia?" digelar di Jakarta, Selasa.

Ia menyampaikan, populasi kendaraan listrik di Indonesia kini mencapai sekitar 330 ribu unit didominasi oleh sepeda motor listrik sekitar 200 ribu unit dan mobil penumpang sekitar 100 ribu unit.

Dalam dua tahun terakhir, jumlah tersebut meningkat lebih dari 100 persen.

Baca juga: ICMS: Kepastian insentif penting jaga momentum kendaraan listrik

Secara terpisah, data industri menunjukkan bahwa sepanjang 2025 pasar kendaraan listrik nasional tumbuh sekitar 70 persen menjadi 175 ribu unit termasuk kendaraan listrik murni hingga plug-in hybrid.

Lonjakan paling signifikan terjadi pada segmen Battery Electric Vehicle (BEV) yang meningkat dari 43 ribu unit pada 2024 menjadi 104 ribu unit pada 2025 atau tumbuh 141 persen.

Patia menjelaskan, peningkatan tersebut tidak terlepas dari masuknya produsen baru dan kesiapan produksi di dalam negeri.

“Tahun ini ada dua merek besar yang pabriknya sudah siap dan dalam satu sampai dua bulan ke depan akan mulai produksi di Indonesia,” ujarnya.

Menurut dia, industri kendaraan listrik juga memberi kontribusi strategis bagi perekonomian nasional.

Selain mendorong pertumbuhan sektor manufaktur dan investasi, industri otomotif menciptakan multiplier effect terhadap sektor pendukung seperti logistik, energi, pembiayaan, infrastruktur, serta penciptaan lapangan kerja.

Meski demikian, Patia mengakui bahwa secara umum pasar kendaraan bermotor nasional pada 2025 mengalami penurunan akibat tekanan daya beli dan kondisi ekonomi global.

Pemerintah, lanjut Patia, optimistis momentum tersebut dapat terus dijaga pada 2026 seiring komitmen penguatan industri dalam negeri, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Di sisi lain, kendaraan listrik justru tumbuh sangat signifikan,” katanya.

Baca juga: Pengamat nilai insentif kendaraan listrik masih diperlukan industri

Baca juga: INDEF: Penghentian insentif kendaraan listrik perbesar tekanan fiskal

Baca juga: Pengamat otomotif: Pasar kendaraan listrik perlu insentif baru

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |