Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kehutanan bersama pengelola eks Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) akan meningkatkan biosekuriti sebagai langkah mencegah penularan Feline Panleukopenia Virus (FPV) yang menyebabkan kematian dua anak harimau di kebun binatang itu.
Dalam pernyataan diterima di Jakarta, Sabtu, Plt. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Ammy Nurwaty menjelaskan kematian dua ekor anak harimau benggala (Panthera tigris tigris) Hara dan Huru di Eks Kebun Binatang adalah akibat infeksi FPV.
"Sejak laporan awal kami terima, kami langsung berkoordinasi dan melakukan penanganan terpadu bersama tim medis dan instansi terkait. Berbagai upaya pengobatan dan pencegahan penularan telah dilakukan secara maksimal, termasuk pemisahan kandang dan pemberian terapi intensif," kata Ammy.
Dia memastikan sebagai tindak lanjut dari kematian dua anak harimau itu, Balai Besar KSDA Jawa Barat bersama pengelola Eks Kebun Binatang Bandung akan meningkatkan langkah biosekuriti, melakukan desinfeksi lingkungan secara intensif dan memperketat pengawasan lalu lintas orang dan peralatan.
Akan dilakukan pula peningkatan pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora, khususnya dari famili Felidae.
Hal itu dilakukan karena berdasarkan rangkaian pemeriksaan klinis, uji diagnostik, dan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim dokter hewan, dapat disimpulkan bahwa kedua anak harimau tersebut mati akibat infeksi FPV.
FPV sendiri merupakan penyakit yang sangat menular pada satwa famili Felidae baik domestik maupun liar, termasuk harimau.
Virus itu menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara (fomite).
Pada satwa muda yang sistem kekebalannya belum berkembang sempurna, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi.
Sebelumnya, dua anak harimau benggala bernama Huru dan Hara berusia delapan bulan dilaporkan mati pada Kamis (26/3) dan Selasa (24/3) di Kebun Binatang Bandung.
Hara dan Huru diketahui merupakan salah satu koleksi satwa di Bandung Zoo yang lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan induk jantan bernama Sahrulkan dan betina Jelita.
Baca juga: Farhan evaluasi tata kelola Bandung Zoo usai dua harimau Benggala mati
Baca juga: Seekor anak harimau Benggala mati di Bandung Zoo
Baca juga: Farhan prihatin atas kematian anak harimau Benggala di Bandung Zoo
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































