Mengenang Juwono Sudarsono: gagal jadi wartawan malah jadi menteri

2 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Siapa sangka, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan era Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah bercita-cita menjadi wartawan di masa mudanya.

Wartawan senior Kantor Berita ANTARA Ade P. Marboen menceritakan keinginan menjadi wartawan diungkapkan sendiri oleh Juwono.

"Waktu beliau muda, cita-citanya justru mau jadi wartawan ANTARA," tutur Ade di Jakarta, Sabtu, mengenang Juwono Sudarsono yang meninggal pada hari yang sama sekitar pukul 13.45 WIB.

Menurut Juwono, sebagaimana dituturkan Ade, menjadi wartawan itu seru, menantang, adventures, dan "sesuatu banget".

Juwono semasa kuliah di jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia pernah menjadi pendamping delegasi-delegasi internasional yang mengikuti konferensi tingkat tinggi (KTT) di Indonesia, dan di situlah interaksinya dengan wartawan terjadi.

"Tapi... beliau justru tidak lulus tes wartawan di ANTARA," ujar Ade.

Menurut Ade, Juwono, pria berpenampilan kalem yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Menteri Lingkungan Hidup itu, merupakan sosok yang hangat dan akrab.

"Pak yu, kami biasa panggil Pak Juwono begitu, kami akrab dan suka cerita apa saja,” tutur Ade.

Sosok kebapakan

Arsip foto - Menteri Pertahanan RI, Juwono Sudarsono (tengah) berjalan berdampingan bersama Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) RI, Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo (kanan) dan Kasad Filipina, Letjend Victor S Ibrado (kiri) usai melakukan pertemuan di gedung Dephan, Jakarta, Rabu (8/10/2008). FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/pd/aa.


Kenangan baik akan sosok Juwono Sudarsono juga diungkapkan Ahmad Wijaya, eks Kabiro ANTARA di Beijing, China yang akrab disapa Anang.

Anang menuturkan, saat kunjungan resmi ke Beijing selama tiga hari tahun 2009, Menhan Juwono Sudarsono menyempatkan diri untuk diwawancarai di hotel tempatnya menginap yang berada di sekitar Kemenlu China di Distrik Chaoyang.

"Di situ ada Dubes Sudrajat, Athan Yayat Sudrajat, dan Aspri Menhan," kata Anang.

Materi wawancara berkisar peningkatan hubungan kerja sama pertahanan dan diplomatik RI-China, keamanan di Laut China Selatan, hingga penangkapan kapal ikan China di perairan Indonesia.

"Sebagai seorang mantan dosen, beliau sangat kebapakan dan sistematis dalam memberikan penjelasan, wawasan serta materi yang saya tanyakan," kenang Anang.

Wawancara sangat mengalir, on the record, dan ada beberapa jawaban yang off the record. Juwono sangat wanti-wanti soal jawaban off the record agar jangan sampai diberitakan.

"Ada juga pertanyaan titipan dari staf KBRI Beijing. Dan ketika saya tanyakan beliau tersenyum, seolah tahu bahwa yang saya tanyakan pasti dari internal staf pertahanan KBRI, tapi oleh beliau tetap dijawab," kata Anang.

Satu hal yang sangat berkesan bagi Anang, usai wawancara sekitar 1,5 jam, Juwono justru balik bertanya kepadanya.

"Dengan gaya kebapakan, beliau menanyakan kondisi pribadi saya selama bertugas di Beijing.
Sudah berapa lama Di Beijing? Apa mengajak keluarga bertugas di Beijing? Anak-anak bagaimana sekolahnya? Sampai ditanya kalau liputan selama di Beijing naik apa?
Terharu sekali saya ditanya beliau seperti itu," kenang Anang.

Selamat jalan Prof. Dr. Juwono Sudarsono. Semoga mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Aamiin.

Baca juga: Mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono meninggal dunia

Baca juga: Mahfud MD kenang mantan Menhan Juwono Sudarsono sebagai ilmuwan besar

Pewarta: Sigit Pinardi
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |