Pelaku dalam negeri: Data inflasi AS redam kekhawatiran pasar kripto

3 weeks ago 21

Jakarta (ANTARA) - Pelaku perdagangan aset kripto dalam negeri menyebut stabilnya inflasi AS pada Desember 2025 memberi ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma mengungkapkan harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan sempat menembus level 97.000 dolar AS sebelum terkoreksi tipis ke level 95.000 – 96.000 dolar AS pada Kamis (15/1) setelah rilis data inflasi Amerika Serikat Desember 2025 yang cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar.

"Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), tambahnya, inflasi AS tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan, sementara inflasi inti (core inflation rate) tetap terkendali di level 0,2 persen m/m dan 2,6 persen y/y.

"Untuk saat ini pelaku pasar akan fokus menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed sambil mencermati data ekonomi berikutnya," ujarnya.

Selain faktor makro, menurut dia penguatan Bitcoin juga terjadi di tengah aksi pembelian oleh institusi besar.

Strategy Inc. mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari 1 miliar dolar AS di awal 2026, yang menjadi pembelian terbesarnya sejak pertengahan 2025.

Langkah tersebut, lanjutnya, memperkuat posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar dan turut memberi dorongan sentimen pasar, meskipun permintaan ritel global masih cenderung terbatas.

Menurut Antony, konsistensi akumulasi oleh institusi besar memperkuat pandangan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset dengan fundamental yang kuat.

"Institusi tidak masuk karena momentum sesaat. Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi," katanya.

Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatatkan penguatan dalam periode yang sama. Ethereum, Solana, dan beberapa altcoin besar bergerak lebih agresif, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah tekanan makro mereda.

Pada kesempatan itu Antony mengimbau pelaku pasar untuk tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin dan melakukan riset secara mandiri atau Do Your Own Research (DYOR), mengingat volatilitas masih menjadi karakter utama dalam pasar aset kripto.

Baca juga: Strategi Crypto & Saham 2026: Evolusi Portofolio Modern Melawan Arus Likuiditas Global

Baca juga: ICEx diharapkan dongkrak pertumbuhan industri aset kripto RI

Baca juga: Indodax catat volume transaksi kripto Rp201,2 triliun selama 2025

Pewarta: Subagyo
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |