Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mega Tbk menargetkan total pertumbuhan kredit yang signifikan mencapai sekitar 10,45 persen (year on year/yoy) menjadi Rp74 triliun pada 2026, didukung oleh pipeline kredit segmen wholesale atau korporasi yang diyakini tetap kuat.
Direktur Wholesale Banking Bank Mega Madi Darmadi Lazuardi menyampaikan bahwa perseroan pada tahun ini tetap melanjutkan fokus pada segmen korporasi, seiring dengan banyaknya peluang kredit yang terkait dengan proyek-proyek strategis pemerintah, hilirisasi, serta sektor sumber daya alam.
“Kita cukup optimis untuk pertumbuhan kredit tahun ini, mengingat bahwa pipeline yang ada saat ini dan maupun yang akan ada cukup signifikan,” kata Madi dalam public expose di Jakarta, Selasa.
Madi menjelaskan bahwa perseroan memproyeksikan penyaluran kredit baru sekitar Rp25-30 triliun. Namun, pertumbuhan kredit secara bersih akan tereduksi oleh rundown kredit sekitar Rp14-15 triliun per tahun serta potensi prepayment, sehingga kenaikan outstanding diperkirakan sekitar Rp6-7 triliun.
Adapun pada 2025, total kredit Bank Mega tumbuh sekitar 4 persen (yoy) mencapai Rp67 triliun. Madi mengatakan, realisasi tersebut sebenarnya berpotensi lebih tinggi, namun adanya sejumlah pelunasan yang dipercepat (prepayment) membuat pertumbuhan tampak tidak sesuai dengan harapan.
Dari sisi strategi untuk tahun ini, perseroan akan mengoptimalkan dan meningkatkan dua jalur utama penyaluran kredit yang telah dilakukan pada tahun lalu.
Pertama, melalui skema sindikasi bersama bank lain yang memiliki potensi besar seiring meningkatnya permintaan pembiayaan untuk proyek-proyek skala besar. Kedua, melalui penyaluran kredit secara bilateral.
Per Desember 2025, fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) Bank Mega mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12 persen dari total plafon kredit.
Baca juga: RUPST Bank Mega setujui dividen Rp2 T dan saham bonus Rp5,87 T
Baca juga: Bank Mega Syariah catat pendanaan korporasi tumbuh 60 persen pada 2025
Baca juga: Bank Mega bagikan 15.000 paket sembako ke masyarakat jelang Idul Fitri
Terkait undisbursed loan, Madi menjelaskan bahwa besarnya angka tersebut disebabkan oleh banyaknya limit kredit yang diberikan kepada proyek-proyek yang masih berjalan, sehingga pencairannya dilakukan secara bertahap sesuai progres pembangunan.
Selain itu, perseroan juga menyediakan limit kredit untuk kebutuhan modal kerja, yang penggunaannya bergantung pada kebutuhan debitur sehingga tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh bank.
“Undisbursed loan itu kebanyakan adalah limit-limit yang kita berikan, baik itu bilateral maupun sindikasi,” kata dia.
Menurut Madi, kondisi ini pun menjadi potensi pertumbuhan ke depan, karena perseroan telah memiliki ruang (room) yang cukup besar untuk mendorong peningkatan outstanding kredit pada tahun ini maupun periode berikutnya.
Dalam pemaparan public expose, selain target kredit, Bank Mega juga mengungkapkan beberapa target untuk tahun buku 2026 di antaranya laba bersih menjadi sebesar Rp3,7 triliun, dana pihak ketiga (DPK) menjadi Rp111 triliun, serta total aset menjadi Rp149 triliun.
Dari sisi rasio keuangan pada 2026, Bank Mega menargetkan capital adequacy ratio (CAR) pada level 28,6 persen, loan to deposit ratio (LDR) 66,4 persen, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 64,2 persen, return on asset (ROA) 3,2 persen, return on equity (ROE) 15,6 persen, net interest margin (NIM) 4,7 persen, serta non-performing loan (NPL) 1,7 persen.
Baca juga: Kerry: Riza Chalid jadi jaminan akuisisi TBBM atas permintaan bank
Baca juga: Bank Jambi-SMF jalin kerja sama pembiayaan perumahan Rp200 miliar
Baca juga: RUPST Bank Mega setujui dividen Rp2 T dan saham bonus Rp5,87 T
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































