Misinformasi picu penurunan cakupan vaksinasi di Indonesia

3 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM menyatakan maraknya misinformasi di media sosial menjadi salah satu faktor utama penurunan cakupan vaksinasi campak di Indonesia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi itu mengatakan kelompok anti-vaksin bukan faktor dominan, namun penyebaran informasi yang tidak akurat secara luas membuat masyarakat ragu untuk melakukan imunisasi.

“Anti-vaksin itu tidak banyak, tetapi karena sangat viral, akhirnya membuat masyarakat bingung dan ragu,” kata Sukamto dalam PAPDI Forum dan Konferensi Pers dengan tema "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi" di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, keraguan tersebut berdampak langsung pada keputusan masyarakat untuk menunda atau tidak melanjutkan vaksinasi, yang pada akhirnya menurunkan cakupan imunisasi.

Baca juga: PAPDI: Vaksin MMR bisa diberikan pada lansia dengan kondisi tertentu

Data PAPDI menunjukkan cakupan imunisasi campak-rubella dosis pertama turun dari 92 persen menjadi 82 persen pada 2025, sementara dosis kedua menurun dari 82,3 persen menjadi 77,6 persen.

Angka tersebut masih jauh di bawah target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 95 persen untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity.

Sukamto menjelaskan, penurunan cakupan vaksinasi akan membuka peluang bagi virus untuk menyebar lebih luas karena semakin banyak individu yang tidak memiliki kekebalan.

“Ketika cakupan vaksin turun, virus akan lebih mudah menemukan orang yang belum imun, sehingga penularan menjadi lebih cepat,” ujarnya.

Selain misinformasi, ia menyebut terganggunya program imunisasi selama pandemi COVID-19 serta tingginya mobilitas masyarakat turut mempercepat penyebaran kasus.

Dalam kondisi tersebut, peran tenaga kesehatan menjadi kunci untuk memberikan edukasi yang tepat dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi.

Ia merujuk pada studi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menunjukkan komunikasi efektif antara dokter dan pasien dapat meningkatkan keberhasilan vaksinasi hingga lebih dari 70 persen.

PAPDI juga mendorong penguatan edukasi publik serta kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan pemuka agama, guna menangkal misinformasi yang beredar.

“Informasi yang benar harus terus disampaikan agar masyarakat tidak terpengaruh narasi yang menyesatkan,” kata Sukamto.

Baca juga: PAPDI rekomendasikan vaksinasi untuk cegah campak pada orang dewasa

Baca juga: Campak bisa timbulkan komplikasi pada individu rentan

Baca juga: Campak menular lewat udara dan droplet, gejala awal kerap tak disadari

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |