Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengapresiasi pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 yang memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan ekonomi karbon.
"Saya sangat mengapresiasi perhatian Presiden terhadap ekonomi karbon. Ini sejalan dengan apa yang selama ini saya dorong bahwa ekonomi karbon harus kita jadikan salah satu pilar ekonomi baru Indonesia," kata Eddy dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Ia menilai pernyataan Presiden tersebut merupakan komitmen politik yang kuat bahwa ekonomi karbon harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi nasional, bukan lagi semata-mata sebagai instrumen untuk mencapai target penurunan emisi.
Baca juga: Prabowo targetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen
Eddy mengatakan dekarbonisasi harus dilihat dalam cara pandang luas sebagai isu lingkungan, sekaligus peluang untuk menciptakan investasi, penerimaan negara, lapangan kerja dan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam konteks tersebut, ia menyebut kehadiran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) merupakan langkah yang sangat strategis. Sistem tersebut diperlukan untuk memastikan setiap unit karbon yang diperdagangkan memiliki pencatatan, verifikasi, dan keterlacakan yang jelas sehingga membangun kepercayaan pasar.
"SRUK adalah fondasi kepercayaan terhadap pasar karbon Indonesia. Kalau kita ingin menarik investasi dan menjadikan karbon sebagai komoditas ekonomi yang kredibel, maka integritas data, transparansi, keterlacakan, dan standar internasional harus menjadi prinsip utama," ucapnya.
Eddy menyampaikan penguatan SRUK harus berjalan beriringan dengan kepastian regulasi, kesiapan proyek karbon, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Menurutnya, banyak proyek karbon telah berada dalam tahap persiapan teknis, finansial, dan kelembagaan sehingga Indonesia harus memastikan proyek-proyek tersebut memiliki jalur yang jelas menuju monetisasi karbon dan integrasi ke dalam sistem nasional.
Baca juga: Prabowo dorong penguatan konektivitas untuk majukan ekonomi desa
Indonesia, kata dia, memiliki modal yang sangat besar untuk membangun ekonomi karbon.
Kekayaan hutan, lahan gambut, mangrove, potensi energi terbarukan, pengelolaan sampah hingga teknologi seperti carbon capture and storage (CCS) dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi rendah karbon.
"Pesan Presiden hari ini harus kita tindak lanjuti dengan kerja konkret. Dengan potensi karbon yang besar maka nilai ekonominya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kita harus membangun pasar karbon yang kredibel, kompetitif dan memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia," ujar Eddy.
Dalam Sidang Tahunan tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemerintah terus menggerakkan ekonomi hijau melalui pembangunan ekosistem nilai ekonomi karbon.
"Kita juga menggerakkan ekonomi hijau. Sistem Registri Unit Karbon dan bursa nilai ekonomi karbon telah kita dirikan dan telah berjalan dengan mengadopsi standar karbon dunia," katanya.
Baca juga: Prabowo: Ekonomi hijau harus ciptakan nilai tambah bagi rakyat
Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































