Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso meminta produsen minyak goreng memperbanyak produksi second brand sebagai pendamping Minyakita untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Budi mengatakan, pemerintah ingin masyarakat tidak hanya bergantung pada Minyakita karena produk tersebut merupakan instrumen intervensi pasar berbasis domestic market obligation (DMO) yang jumlahnya terbatas dan bergantung pada kinerja ekspor.
“Second brand ini pendamping Minyakita, harganya terjangkau seperti Minyakita, tetapi kualitasnya sama. Bahkan kalau bisa lebih bagus,” kata Budi saat meninjau pabrik PT Mikie Oleo Nabati Industri (MONI) di Bekasi, Jawa Barat, Kamis.
Second brand adalah sebutan merek alternatif minyak goreng yang diproduksi oleh pabrik yang sama atau grup usaha yang sama dengan merek utama (main brand), namun dijual dengan harga lebih terjangkau.
Baca juga: Kemendag pastikan harga Minyakita turun sebelum Ramadhan
Ia menjelaskan, sebelum program Minyakita berjalan, terdapat puluhan merek minyak goreng second brand di pasar, namun jumlahnya kini berkurang sehingga konsumen cenderung terfokus pada Minyakita.
Menurut Mendag, Minyakita awalnya diterbitkan sebagai instrumen intervensi ketika harga ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) meningkat dan pasokan dalam negeri menurun, namun kini kerap dijadikan indikator utama ketersediaan minyak goreng.
“Padahal Minyakita itu jumlahnya terbatas. Kalau ekspor turun, otomatis Minyakita juga berkurang, sementara minyak goreng jenis lain sebenarnya berlimpah,” ujar dia.
Budi menyatakan, pemerintah meminta produsen memproduksi lebih banyak second brand agar masyarakat tetap memiliki pilihan minyak goreng dengan harga terjangkau meski pasokan Minyakita terbatas.
Baca juga: Bulog: Distribusi minyak goreng DMO dimulai per Januari 2026
Ia menegaskan, second brand tidak akan diatur dengan harga eceran tertinggi (HET), namun diminta menjadikan Minyakita sebagai acuan harga.
“HET Minyakita Rp15.700 per liter itu ditetapkan tiga tahun lalu dan sampai sekarang belum naik, sementara harga CPO meningkat. Second brand tidak pakai HET, tapi acuannya Minyakita,” ucapnya menjelaskan.
Dalam kesempatan tersebut, Mendag memastikan pasokan minyak goreng nasional aman menjelang Ramadan dan Idulfitri karena produksi produsen terus berjalan dan bahkan ditingkatkan.
“Pasokan (minyak goreng) cukup, tidak ada kekurangan minyak goreng. Produksi jalan terus dan ditambah,” kata Budi.
Baca juga: Bulog Tanjungpinang datangkan 200 ribu liter Minyakita
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan menegaskan, Minyakita bukan produk subsidi dan sepenuhnya bergantung pada kewajiban DMO produsen yang melakukan ekspor.
“Tidak ada subsidi pemerintah atau uang negara di Minyakita. Kalau tidak ekspor, tidak ada kewajiban DMO,” kata Iqbal.
Ia mengatakan, kebijakan penyaluran Minyakita melalui badan usaha milik negara (BUMN) pangan telah mencapai sekitar 33 persen per 5 Februari 2026 dari target kebijakan 35 persen DMO.
“Harga Minyakita rata-rata nasional turun dari sekitar Rp16.800 per liter menjadi sekitar Rp16.200 per liter,” ujarnya.
Baca juga: Pemerintah segera salurkan bantuan beras-MinyaKita bagi 33,2 juta KPM
Pemerintah, lanjut dia, akan terus memantau peredaran minyak goreng di pasar dan siap melakukan intervensi apabila terjadi kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN).
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































