Tenggarong, Kaltim (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, bersinergi untuk memperkuat konservasi Pesut Mahakam ( (Orcaella brevirostris) agar fauna langkah tersebut tidak punah dan dapat berkembangbiak.
"Pemkab Kutai Kartanegara siap memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan Pesut Mahakam yang saat ini jumlahnya terus menurun," kata Asisten II Sekretariat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Ahyani Padianur Diani di Tenggarong, Senin.
Penguatan konservasi menjadi vital karena jumlah Pesut Mahakam saat ini hanya tinggal 66 ekor yang hidup di kawasan tengah Sungai Mahakam, terutama di Kecamatan Kota Bangun, Muara kaman, dan sekitarnya.
Untuk itu, kata Ahyani, berbagai upaya terus dilakukan Pemkab Kukar untuk melindungi satwa endemik Sungai Mahakam, melalui kolaborasi dengan berbagai pihak agar pesut bisa terus berkembang.
Baca juga: KLH siapkan langkah darurat penyelamatan Pesut Mahakam
Ia menyerukan kepada pihak terkait pada desa-desa di sepanjang Sungai Mahakam aktif menjaga kebersihan perairan, mengurangi penggunaan alat tangkap yang merusak, serta mengembangkan potensi wisata berbasis konservasi.
Sejumlah desa diajak proaktif, karena saat ini telah ada dua desa yang ditetapkan sebagai desa konservasi Pesut Mahakam, yakni Desa Muhuran di Kecamatan Kota Bangun dan Sabintulung di Kecamatan Muara Kaman.
"Penetapan desa konservasi ini oleh pemerintah pusat ini menjadi pesan tegas bahwa penyelamatan Pesut Mahakam adalah tanggung jawab bersama. Sungai Mahakam bukan ruang eksploitasi tanpa batas, melainkan ekosistem hidup yang harus dijaga agar tetap lestari," kata Ahyani.
Sebelumnya pada Sabtu 7 Februari 2026 KLH melalui Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Rasio Ridho Sani, hadir ke Kukar untuk menetapkan dua desa tersebut sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam.
Baca juga: KLH tetapkan dua Desa Konservasi Pesut Mahakam di Kaltim
Penetapan dua desa ini untuk melengkapi Desa Pela (Kecamatan Kota Bangun) yang sebelumnya telah lebih dulu ditetapkan sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam.
Rasio Ridho menyampaikan pesut merupakan mamalia air endemik Sungai Mahakam yang kini berstatus kritis dan terancam punah, sehingga membutuhkan perlindungan serius dan berkelanjutan.
Ia menyebut Pesut Mahakam bukan hanya satwa dilindungi, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem Sungai Mahakam. Pelestarian habitatnya harus dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
"Seluruh aktivitas di kawasan sungai dan danau di Mahakam, mulai dari perikanan, transportasi air, pertambangan, perkebunan hingga pariwisata, harus dikelola secara bertanggung jawab agar tidak merusak habitat pesut," katanya.
Baca juga: Pemprov Kaltim perkuat kolaborasi lintas sektor lindungi Pesut Mahakam
Pewarta: M.Ghofar
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































