Gaza (ANTARA) - Berbagai inisiatif di seluruh Jalur Gaza menghadirkan momen kebahagiaan sederhana bagi anak-anak seiring dimulainya bulan suci Ramadhan di wilayah Palestina tersebut pada Rabu (18/2).
Bagi banyak warga di Gaza, ini menandai Ramadhan ketiga sejak babak terbaru dalam konflik Israel-Palestina meletus pada 7 Oktober 2023. Terlepas dari gencatan senjata Israel-Hamas yang mulai diberlakukan pada Oktober 2025 dan berbagai kesulitan yang masih berlangsung, para penduduk dan seniman berupaya memelihara semangat bulan suci tersebut melalui aktivitas kreatif dan komunal.
Di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Rehan Shorrab (33) mengubah kotak-kotak kardus kosong, yang sebelumnya digunakan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan, menjadi lentera Ramadan berwarna-warni.
"Saya telah kehilangan rumah dan beberapa anggota keluarga, namun saya ingin menghadirkan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak yang menderita akibat perang," ujar Shorrab kepada Xinhua. "Ramadhan seharusnya tetap menghadirkan kehangatan dalam hati mereka."
Dia membuat lentera-lentera itu dari kardus, menghiasnya dengan kain-kain yang dikumpulkan secara lokal, memotong, membentuk, dan merangkai setiap bagian secara cermat menjadi pola-pola yang rumit. Beberapa lentera dipajang di luar tenda miliknya agar anak-anak dapat mengambilnya secara gratis, sementara lainnya dijual untuk membantu menopang kehidupan keluarganya yang beranggotakan lima orang.
"Kebahagiaan yang saya lihat di mata anak-anak tersebut saat mereka membawa lentera mereka memberi saya rasa kepuasan yang tak terlukiskan," tuturnya. Terkadang, hanya mendengar seorang anak tertawa membuat saya merasa bahwa semua hal yang telah saya lakukan benar-benar sepadan.
Salah satu anak yang memperoleh manfaat dari karyanya adalah Yasser Bashir, yang menerima lentera secara cuma-cuma.
"Lentera itu membuat kami merasa menjadi bagian dari perayaan tersebut, meski terdapat segala kesulitan di sekitar kami," ujarnya.
Berbagai upaya serupa juga muncul di Gaza City di Jalur Gaza utara, di mana Hussam Ali membuat lentera dari sisa-sisa logam dan kayu.
"Saya melakukan hal ini untuk anak-anak," ujar Ali, yang mengundang anak-anak untuk membantu mendekorasi lentera tersebut, membiarkan mereka merangkai kisah dan kenangan mereka sendiri.
Upaya-upaya individual tersebut dilengkapi oleh berbagai proyek komunitas. Di lingkungan Al-Sa'afin di Khan Younis, sekelompok seniman Palestina meluncurkan proyek melukis lentera yang berwarna cerah di reruntuhan rumah-rumah yang hancur akibat bom.
"Melukis lentera di dinding tidak sekadar seni, ini merupakan pesan harapan bagi anak-anak," tutur Mohammed Al-Najjar, salah satu seniman tersebut. Kami ingin anak-anak memandang bahwa Ramadan tetap menjadi masa yang menyenangkan, bahkan setelah semua hal yang mereka alami.
Anak-anak kerap membantu memilih desain dan berpartisipasi dalam proses melukis, memberikan mereka rasa kendali diri serta pelipur lara sejenak di tengah kehancuran.
Inisiatif-inisiatif tersebut berlangsung di tengah kesulitan yang terus berlanjut. Banyak warga Palestina masih bertahan hidup di tengah reruntuhan dan di bawah sejumlah pembatasan yang diberlakukan melalui blokade, sembari berupaya mempertahankan rutinitas harian dan perayaan tradisional.
Pihak penyelenggara menguraikan tujuan utama mereka adalah memberikan kebahagiaan bagi anak-anak, terutama bagi mereka yang masa kecilnya dibayangi perang. Para ahli menyatakan bahwa upaya semacam itu dapat meringankan dampak psikologis akibat konflik dan memperkuat ikatan keluarga dan komunitas melalui aktivitas bersama.
"Kendati perang belum sepenuhnya berakhir dan sebagian besar kehancuran masih ada, aktivitas-aktivitas tersebut memberikan harapan, pengalihan, dan rasa kehidupan yang normal kepada anak-anak," urai Rana al-Haddad, psikolog yang berbasis di Gaza.
"Sementara masa depan masih tidak menentu di Jalur Gaza, inisiatif-inisiatif seperti membuat lentera Ramadan menawarkan cara kecil namun bermakna bagi anak-anak untuk merasakan kebahagiaan, optimisme, dan rasa kebersamaan dalam lingkungan yang menantang," imbuhnya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026


















































