Jakarta (ANTARA) - Apa yang ada di benak orang-orang mengenai Presiden Prabowo Subianto?
Mungkin sebagian berpikir, Prabowo adalah presiden yang antikritik, memutuskan semuanya sendiri, tidak mau mendengar masukan dari akademisi atau ahli dalam mengambil dan menjalankan keputusan.
Ada beberapa yang menilai, berbagai kebijakan yang dimunculkan adalah kebijakan reaktif. Muncul kasus dulu, kemudian viral, dan akhirnya kebijakan tersebut direvisi.
Benarkah Prabowo presiden yang alergi dan antikritik? Di panggung depan, kesannya, mungkin iya. Media jarang memotret bagaimana Presiden Prabowo berdialog dengan para akademisi, berdialog dengan tokoh-tokoh agama terkait permasalahan bangsa.
Padahal sesungguhnya Prabowo adalah presiden yang aktif berdiskusi, berdialog dengan berbagai pihak. Sering mendengarkan dan membahas isu-isu politik dengan kalangan aktivis, misalnya. Hanya memang tak diekspos ke luar.
Misalnya setelah menandatangani persetujuan untuk bergabung dengan Board of Peace, Presiden Prabowo mengundang tokoh-tokoh ormas agama ke Istana serta berdiskusi dengan para mantan Menteri Luar Negeri untuk mendengar langsung masukan terhadap kebijakan luar negeri yang diambil.
Publik kemudian menyalahartikan tindakan Presiden Prabowo tersebut. Kegiatan diskusi tersebut cenderung dilupakan dan tidak menjadi perhatian publik. Orang kemudian memberikan label bahwa Prabowo adalah Presiden yang menutup keran kritik dan masukan karena tidak terlalu banyak mempublikasikan kegiatannya tersebut.
Dalam konstruksi Teori Dramaturgi dari Erving Goffman, itu adalah panggung depan yang coba ditunjukkan oleh Presiden Prabowo. Seorang pemimpin membutuhkan ketepatan dan kecepatan dalam mengambil keputusan, terlebih jika menyangkut kebijakan yang mempengaruhi jutaan rakyat Indonesia. Pemimpin tidak boleh gamang. Seorang presiden sebagai pucuk tertinggi kekuasaan politik di Indonesia harus terlihat stabil.
Jika setiap keputusan harus ditunjukkan melalui dialog terlebih dahulu, dunia internasional akan melihat bahwa Indonesia dipimpin oleh seorang presiden yang tidak punya prinsip. Posisi Indonesia di kancah politik internasional bisa dalam posisi sulit jika citra dialogis tersebut dimunculkan oleh Presiden Prabowo.
Mereka akan menilai kita bukan lagi mitra strategis ketika melihat presidennya adalah orang yang gamang dan tidak punya prinsip. Bisa saja, ekstremnya, kita jadi target invasi dari negara-negara adidaya.
Itu adalah panggung depannya. Dalam perspektif Goffman, panggung belakang adalah tempat untuk mempersiapkan pertunjukan di panggung depan. Panggung belakang tidak harus selalu diumbar karena dapur dari komunikasi kepresidenan dan kebijakan teknokratis yang diambil ada di sana.
Presiden Prabowo pasti memahami hal tersebut. Diberitakan atau tidak diberitakan, presiden selalu aktif mencari pertimbangan lain, mencoba menemukan second opinion dari tokoh-tokoh masyarakat atau akademisi ahli. Hal tersebut kadang luput dari pemberitaan media atau mungkin tidak diberitakan sama sekali.
Perlu diingat, Presiden Prabowo adalah mantan Komandan Kopassus di TNI Angkatan Darat. Sebagai seorang militer dengan pangkat tinggi, maka sifat komunikasi ala militer yang lekat dengan komando dan instruksi sudah melekat dalam identitas Presiden Prabowo.
Gaya itu masih terasa sekali dalam komunikasi di panggung depan Presiden. Setiap melakukan konferensi pers di hadapan media, seringkali Presiden Prabowo memberikan instruksi kepada para menterinya secara tegas, ala militer. Orang awam akan banyak melihat gaya ini cenderung otoriter. Identitas militernya benar-benar masih melekat.
Namun di panggung belakang, Presiden Prabowo banyak mendengarkan masukan terhadap kebijakan yang akan ia ambil. Hal tersebut menunjukkan ada transformasi identitas yang kemudian diadopsi oleh Presiden Prabowo.
Posisi berbeda
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































