Praktisi pengobatan tradisional China beri tips bugar jalani Ramadan

1 hour ago 1

Sleman (ANTARA) - Ramadan tiba dan umat Islam di dunia kembali menjalankan ibadah puasa, termasuk di Indonesia.

Xinhua berbincang dengan pakar pengobatan Timur, Arief Aditama, untuk menelisik lebih lanjut perihal pendekatan pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM) yang sudah mengakar selama 2.000 tahun lebih untuk kelancaran ibadah puasa.

"Puasa dengan pendekatan pengobatan Timur sangatlah berhubungan. Puasa memberi kesempatan kepada organ pencernaan untuk istirahat, jadiqi atau energi tubuh bisa digunakan untuk perbaikan. Dalam bahasa TCM, puasa bisa mengurangi lembap dan beban pencernaan, membuat mental dan sistem emosi lebih stabil," ujar Arief, pemilik Rumah Sehat Toms Hepi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Puasa yang dijalankan umat Islam tentu diawali dengan makan sahur. Lantas, bagaimana menu sahur yang ideal bagi tubuh menurut pendekatan TCM?

"Prinsip makan sahur idealnya bersifat hangat dan mudah dicerna, kalau bahasa TCM-nya untuk menjagaqi atau 'api' pencernaan tetap hangat karena tubuh dalam kondisi cenderung dingin ketika kita tidur," ujar Arief yang lebih dikenal dengan nama Suhu Tomy tersebut.

Menurut Tomy yang telah mendalami TCM selama lebih dari 20 tahun, komposisi sahur sebaiknya diusahakan tidak memberatkan tubuh atau seimbang antara karbohidrat, protein, serat, dan lemak, serta cukup cairan yang fungsinya menjaga elektrolit alami dalam tubuh.

"Selain karbohidrat seperti nasi, ketela, singkong, atau roti gandum, juga dibutuhkan protein seperti telur, daging, serta serat dari sayur yang dimasak matang dengan menyertakan rempah agar energi masuk," ujarnya.

Tomy menyebut bahwa sayur dan buah-buahan di Indonesia cenderung bersifat lembap sehingga perlu diperhatikan. "Buah pun secukupnya saja dan jangan banyak-banyak karena sebagian besar buah-buahan kita sifatnya cenderung lembap dan dingin."

Ketika ditanya tentang minuman yang aman dikonsumsi ketika sahur, Tomy pun teringat sesuatu yang menurutnya menarik untuk disampaikan.

"Masyarakat kita suka sekali minum kopi. Kopi boleh tetapi secukupnya saja, karena terlalu banyakngopi saat sahur justru berpotensi membuat kita cepat haus ketika berpuasa karena sifatnya kering," ujar pria yang identik dengan belangkon tersebut.

"Teh pun jangan terlalu banyak gula, karena lonjakan gula tiba-tiba pun membuat cepat lapar karena dapat turun drastis pula."

Ketika tiba waktu berbuka puasa, Tomy pun mengingatkan pentingnya aturan konsumsi makanan yang aman.

"Tujuan utama berbuka puasa adalah untuk mengembalikan cairan dan energi, namun pada prinsipnya proses pengembalian energi tidak boleh mengagetkan, sehingga qi-nya tidak melonjak," jelas Tomy.

Pertama, yang paling tepat adalah dimulai dengan minum air putih hangat, perlahan akan mengisi air pada tubuh dan suhu yang hangat akan menaikkanqi pencernaan.

Kedua, konsumsi makanan yang sifatnya ringan terlebih dahulu dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, seperti tiga buah kurma yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, makanan utama yang dianjurkan adalah sup, masakan berkuah, sayur yang bersifat hangat dengan rempah.

"Kolak terkenal sebagai menu berbuka puasa, namun masyarakat harus paham juga bahwa kolak sifatnya lembap sehingga saya menyarankan untuk menambah kayu manis untuk unsur hangat," jelasnya.

"Yang perlu sangat berhati-hati adalah konsumsi es yang sifatnya dingin ekstrem, yang berpotensi membuat stagnasi di dalam perut. Bukan tidak boleh, tetapi harus berhati-hati dan diperhatikan."

Terlebih lagi, Ramadan kali ini juga beriringan dengan musim hujan dan banjir, di mana patogen angin, air, dan lembap sangatlah kuat dan dapat menyerang sistem imun manusia. Oleh karena itu, energi tubuh perlu dijaga, tutur Tomy.

Untuk terapi fisik yang ringan dan dapat dilakukan sendiri selama menjalani puasa, Tomy memberikan tip sederhana. Pijatan ringan pada bahu, leher, pinggul, dan betis berguna untuk membantu sirkulasi darah.

"Ketika makanan berkurang di dalam tubuh, kaki dapat menjadi dingin. (Lakukan) pijat sederhana di area betis, antara lutut ke bawah di sekitar area betis sampai ke telapak kaki, karena banyak titik yang menaikkan energi," ujarnya.

Titik-titik di telapak kaki dipijat perlahan agar hangat. Terapi yang dilakukan ini dapat melancarkanqi, meregulasi dan menaikkan energi serta membuang sifat lembap.

"Bila perut kembung, bisa dipegang dan digosok berputar searah jarum jam dengan telapak tangan kanan hingga minimal lima menit sampai terasa hangat, yang berguna untuk membangkitkan energi pencernaan," jelas Tomy.

"Bila tubuh terindikasi masuk angin, bisa melakukan kerokan (guasha) dengan minyak hangat," tambahnya.

Olah napas pun turut dianjurkan. Latihan ini dapat dilakukan selama beberapa menit untuk menenangkan pikiran, emosi, dan arus energi di jalur meridian tubuh.

"Ketika berpuasa, jangan banyak tidur di siang hari yang justru berpotensi memunculkan lapar dan lemas, karena pembakaran hanya terjadi pada makanan di perut kita. Beraktivitaslah normal sehingga tubuh juga membakar lemak dibanding gula, sehingga lapar tidak muncul," ujarnya.

Lebih lanjut, Tomy berpendapat bahwa Ramadan adalah miniatur keseimbangan bagi tubuh manusia. Makan dan minum yang dibatasi sepanjang hari dan malam hari yang diisi dengan beribadah merupakan contoh gambaran ideal aktivitas tubuh manusia.

"Bulan puasa identik dengan ibadah yang bermanfaat sebagaimana aktivitas fisik. Salat Tarawih, baik yang dilakukan 11 hingga 23 rakaat, menjadi semacam olahraga yang membantu kebugaran tubuh dan mampu mengusir hawa lembap tubuh," tuturnya memberikan contoh.

Tak lupa Tomy mengingatkan bahwa puasa bukan hanya soal menu makanan atau ketika tubuh berpuasa saja, tetapi juga menyangkut ritme atau perilaku tubuh selama 24 jam.

"Tidak bisa kita melihat puasa itu hanya sebatas aktivitas tidak makan dari subuh hingga magrib, tetapi harus dilihat secara holistik atau 24 jam dalam sehari, jadi antara fisik, pikiran, dan emosi wajib terkondisi dengan baik," terang Tomy.

Oleh sebab itu, Tomy menyarankan agar menghindari bergadang tanpa kebutuhan yang penting, konsumsi kopi yang berlebihan, makan malam yang terlalu banyak dan larut, dan bahkan olahraga yang terlalu berat karena justru dapat menimbulkan dehidrasi.

"Jangan sampai ada istilah 'balas dendam' setelah berbuka puasa yang justru merugikan siklus puasa tersebut secara keseluruhan," tutup Tomy.

Pewarta: Xinhua
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |