Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengatakan, kesuksesan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bukan hanya diukur dari jumlah peserta yang diperiksa, melainkan dari sejauh mana temuan kritis dapat ditindaklanjuti melalui pengobatan atau rujukan medis.
Ketika dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, Pratikno menyebutkan bahwa pada 2025, CKG telah menjangkau 70 juta peserta di 10.225 puskesmas. Namun demikian, program yang merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win) Bidang Kesehatan yang diusung Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya berhenti pada tahap deteksi dini.
"Esensi dari skrining kesehatan adalah tata laksana lanjutan yang cepat dan tepat bagi setiap peserta yang ditemukan memiliki kelainan kesehatan, guna mencegah progresivitas penyakit ke tahap yang lebih kritis," katanya saat meninjau CKG di Puskesmas Cilandak, Jakarta Selatan dalam rangka setahun CKG.
Setelah ada tindak lanjut, katanya, perlu ada usaha untuk menjaga kondisi kesehatan. Misalnya, kalau ada yang tekanan darahnya tinggi, perlu langsung berkonsultasi dengan petugas kesehatan agar mendapatkan obatnya.
Dia menyebutkan bahwa data Puskesmas Kecamatan Cilandak yang menjadi rujukan implementasi CKG menunjukkan pentingnya sistem tata laksana lanjutan tersebut. Dari total 81.573 peserta yang diperiksa sepanjang 2025, sebanyak 17,05 persen atau sekitar 13.908 orang dinyatakan sakit dan memerlukan tindakan medis langsung di puskesmas. Sementara itu, 1,85 persen atau lebih dari 1.500 kasus dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lanjutan.
Baca juga: Menkes: Program CKG jadi strategi preventif perkuat BPJS Kesehatan
Angka tersebut menunjukkan bahwa hampir 19 persen hasil skrining CKG membutuhkan intervensi medis segera.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menjelaskan bahwa sistem CKG kini dirancang untuk memastikan tidak ada kasus yang terlewat setelah pemeriksaan.
“CKG bukan hanya menemukan kasus, tetapi juga melakukan tata laksana lanjutan dari hasil CKG. Jadi ini bukan sekadar deteksi, melainkan benar-benar perawatan,” jelas Rizka.
Dia menambahkan, mekanisme tersebut mencakup penanganan penyakit seperti hipertensi dan diabetes yang langsung diberikan terapi di puskesmas, hingga kasus-kasus kritis seperti kekurangan enzim pada bayi baru lahir atau penyakit jantung bawaan yang segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
Rizka menyebut bahwa pada pelaksanaan CKG 2026, pemerintah semakin memperkuat sistem tindak lanjut dengan menambah cakupan skrining penyakit yang membutuhkan tata laksana lanjutan yang ketat.
Selain pemeriksaan talasemia yang kini difokuskan pada balita usia dua tahun dan peserta didik kelas 7, program ini juga memperluas skrining kanker paru dan kanker usus besar bagi perempuan dan laki-laki, serta menambah deteksi penyakit kulit menular seperti kusta, skabies, dan frambusia.
Seluruh temuan dari pemeriksaan tersebut akan diikuti dengan protokol pengobatan atau rujukan yang jelas, sehingga deteksi dini benar-benar mampu mengurangi beban penyakit. Melalui pendekatan yang lebih proaktif, katanya, tim CKG hadir langsung di tempat-tempat berkumpul masyarakat atau komunitas, seperti kantor, sekolah, dan organisasi.
Dengan dukungan jaminan rujukan lanjutan yang terintegrasi dalam program ini, diharapkan masyarakat tidak hanya semakin sadar akan kondisi kesehatannya, tetapi juga dapat segera memperoleh pengobatan yang dibutuhkan sejak dini.
Baca juga: Terus perbaiki kualitas, riwayat imunisasi dicantumkan dalam CKG
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































