Kemhan evaluasi latsarmil usai dua peserta SPPI meninggal

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) setelah dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan.

"Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan saat ini melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan program," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangan yang diterima ANTARA, di Jakarta, Selasa.

Menurut Rico, evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai aspek yang perlu diperbaiki guna meningkatkan keselamatan dan kualitas penyelenggaraan pendidikan latsarmil.

"Kami akan mengevaluasi mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan peserta dengan kondisi kesehatan khusus, serta sistem komunikasi dan pelaporan," ujarnya.

Ia menegaskan Kemhan terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik demi mewujudkan penyelenggaraan latsarmil yang lebih baik.

Baca juga: Kemenhan benarkan dua calon pengelola KDMP/KNMP meninggal saat latsarmil

"Setiap masukan, evaluasi, dan pembelajaran dari pelaksanaan kegiatan akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan agar berlangsung semakin baik, aman, profesional, dan akuntabel," kata Rico.

Sebelumnya, dua peserta Program SPPI yang dipersiapkan menjadi pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia saat mengikuti latsarmil.

Kedua peserta tersebut bernama Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.

Rico menjelaskan Anisa Muyassaroh meninggal dunia akibat "heat stroke" saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.

Heat stroke (atau sengatan panas) adalah kondisi gawat darurat akibat paparan suhu panas ekstrem, di mana suhu inti tubuh melonjak drastis hingga mencapai atau melebihi 40 derajat Celsius dan sistem pengaturan suhu tubuh gagal berfungsi.

Baca juga: Kemhan: Pengelola KDMP ikuti latsarmil di 67 satuan TNI seluruh RI

Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja.

Menurut Rico, Yonanda sempat mengalami penurunan kondisi fisik pada 17 Juni 2026 dan kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat 'cardiac arrest' atau henti jantung," katanya.

Pewarta: Walda Marison
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |