Jakarta (ANTARA) - Pemerintah meluncurkan gerakan nasional membangun Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Rana) untuk mencegah kekerasan terhadap anak.
"Kita bersepakat untuk membuat gerakan nasional yang kita beri nama Rana, Gerakan #RuangAmanNyamanAnak. Jadi gerakan untuk membangun ruang aman dan nyaman untuk anak," kata Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno saat konferensi pers usai rapat tingkat menteri di Jakarta, Selasa.
Upaya ini menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan satuan pendidikan benar-benar menjadi ruang aman dan nyaman bagi anak.
Baca juga: Menteri PPPA imbau penguatan keluarga untuk cegah kasus kekerasan
"Ini menindaklanjuti arahan Bapak Presiden yang secara spesifik waktu itu disampaikan kepada Pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen). Bagaimana satuan-satuan pendidikan itu benar-benar menyediakan ruang yang aman dan nyaman untuk anak. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang digital," kata Menko Pratikno.
Gerakan Rana juga akan disosialisasikan di ruang-ruang publik.
Menurut Menko Pratikno, masa penerimaan siswa baru tahun ini akan menjadi momentum untuk menyosialisasikan pentingnya ruang aman dan nyaman untuk anak.
Baca juga: Anak perlu diberi literasi agar terhindari dari ancaman ruang digital
"Tidak hanya cukup dengan pengarusutamaan dan edukasi, kita juga melakukan upaya-upaya yang sistematis untuk pencegahan (kekerasan) dan juga merespons cepat dan melakukan penanganan seandainya terjadi kekerasan," kata Menko Pratikno.
Rapat tingkat menteri tersebut dihadiri oleh Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono, Wamenag Romo Muhammad Syafi'i, Wamen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, dan Wamendukbangga Isyana Bagoes Oka.
Baca juga: KPAI imbau Pemprov DKI tempatkan petugas di RPTRA cegah kekerasan
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































