Kemenperin catat ekspor baja RI melonjak sedangkan impor turun

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja industri baja dalam negeri menunjukkan tren yang positif dalam beberapa tahun terakhir dengan adanya lonjakan ekspor dan penurunan nilai impor yang mendorong perbaikan neraca dagang baja nasional.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu, menyampaikan volume ekspor baja Indonesia melonjak dari 9,3 juta ton pada 2020 menjadi 23,97 juta ton pada 2025.

Ia mengatakan lonjakan itu mencerminkan penguatan kapasitas produksi serta meningkatnya daya saing industri baja domestik di pasar global.

Di sisi lain, impor baja yang sempat meningkat hingga 17,9 juta ton pada 2022, berangsur menurun menjadi 14,8 juta ton pada 2025.

"Perkembangan ini menyebabkan pergeseran neraca perdagangan dari kondisi defisit menuju surplus yang mencapai 18,09 juta ton," katanya.

Faisol mengatakan tren surplus itu tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah, peningkatan produksi dalam negeri, faktor harga global, serta perubahan rantai pasok akibat tekanan geopolitik.

Selain dari sisi volume, nilai ekspor baja nasional juga menunjukkan kinerja yang kuat, pada 2024 misalnya, total nilai ekspor baja Indonesia tercatat mencapai 29,23 miliar dolar AS.

Sementara untuk struktur pasar ekspor baja Indonesia masih didominasi kawasan Asia Pasifik, dengan lima negara tujuan utama yakni China sebagai pasar terbesar dengan nilai ekspor 16,11 miliar dolar AS, diikuti Taiwan, India, Australia, dan Vietnam.

Posisi itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam.

Menurut Faisol, capaian tersebut menjadi modal penting untuk terus memperluas pangsa pasar ekspor. Pemerintah mendorong penguatan kapasitas produksi melalui peningkatan utilisasi industri baja nasional agar mampu memenuhi permintaan global yang terus tumbuh.

Berdasarkan data World Steel Association, total produksi baja kasar dunia pada tahun 2025 mencapai 1.849 juta ton. China masih menjadi produsen terbesar dengan produksi sekitar 960,8 juta ton atau setara 51,9 persen dari total produksi global, disusul India sebesar 164,9 juta ton atau sekitar 8,9 persen.

Dari sisi permintaan domestik, struktur konsumsi baja nasional masih didominasi sektor konstruksi. Berdasarkan data IISIA dan World Steel Association (WSA), sektor konstruksi menyerap 77,1 persen dari total konsumsi baja nasional yang mencerminkan peran strategis pembangunan infrastruktur dan properti sebagai motor penggerak utama permintaan baja di dalam negeri, katanya menjelaskan.

Sementara itu, sektor otomotif menempati posisi kedua dengan kontribusi sebesar 11,6 persen, diikuti sektor peralatan rumah tangga sebesar 3,3 persen.

Secara agregat, konsumsi baja tertimbang (steel weighted) mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,2 persen pada 2024, setelah sebelumnya mengalami kontraksi pada 2020 akibat perlambatan ekonomi global.

Meski menunjukkan tren pemulihan, tingkat konsumsi baja per kapita Indonesia pada 2025 masih relatif rendah, yakni sekitar 60 kilogram per kapita. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata global sebesar 217 kilogram per kapita.

"Ini mengindikasikan bahwa potensi ekspansi dan peningkatan yang signifikan masih tersedia ruang yang sangat besar," katanya.

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |