Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyebut temuan Cek Kesehatan Gratis (CKG) tentang kesehatan lansia serta studi Health, Aging, and Retirement in Thailand (HART) menunjukkan pentingnya intervensi menyeluruh, berkelanjutan dan multisektoral untuk menjaga kesehatan para lansia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi di Jakarta, Sabtu, mengatakan Indonesia dan Thailand sedang menghadapi tantangan penuaan penduduk yang serupa populasi lanjut usia bertambah cepat di tengah perubahan sosial dan ekonomi, sementara pola hidup modern meningkatkan risiko penyakit tidak menular.
Indonesia telah membangun infrastruktur skrining yang luas melalui program CKG yang menggabungkan akses digital dan layanan primer untuk menjangkau seluruh siklus hidup, termasuk lansia, sehingga menyediakan peluang nyata untuk menerapkan intervensi pencegahan yang lebih terintegrasi.
Baca juga: CKG 2026 diperluas dengan skrining tiga penyakit kulit
"Hasil CKG pada kelompok lansia menunjukkan capaian besar sekaligus tantangan klinis yang nyata. CKG dilakukan pada 6 juta lansia, atau sekitar 35,5 persen dari target 16,9 juta lansia, sehingga program ini sudah menjangkau sebagian besar populasi lanjut usia, namun masih perlu diperluas untuk mencapai cakupan penuh," katanya.
Temuan geriatri dari skrining ini mengungkapkan beban masalah fungsional dan kognitif yang signifikan. Dari pemeriksaan Skrining Lansia Sederhana (SKILAS) mobilitas sebanyak 1.579.475 orang, ditemukan 1.020.936 kasus gangguan mobilitas, dari 992.277 pemeriksaan SKILAS kognitif, 339.559 orang menunjukkan gangguan kognitif, dan pemeriksaan malnutrisi, depresi, serta penilaian ADL juga mengidentifikasi ribuan lansia yang memerlukan tindak lanjut klinis dan sosial.
Selain itu, katanya, temuan dari studi longitudinal nasional Health, Aging, and Retirement in Thailand (HART) yang dipimpin oleh Dr Shahmir H. Ali menunjukkan bahwa beban penyakit kardiovaskular meningkat antara 2015 dan 2022, namun pola kenaikannya tidak merata di seluruh wilayah.
Analisis terhadap lebih dari delapan ribu orang dewasa berusia 45 tahun ke atas menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung tidak ditentukan oleh satu kebiasaan buruk saja, melainkan oleh akumulasi beberapa perilaku tidak sehat yang saling berinteraksi.
Menurut Imran, menggabungkan pelajaran HART dan data CKG memberi gambaran yang jelas tentang arah intervensi yang diperlukan.
Pertama, karena risiko kardiovaskular dan masalah fungsional pada lansia sering muncul dari kombinasi faktor, seperti aktivitas fisik rendah, pola makan buruk, gangguan tidur, stres, dan kondisi kronis, program pencegahan harus dirancang sebagai paket terpadu.
Baca juga: Mendikdasmen: CKG bangun kesadaran kesehatan di lingkungan sekolah
"Platform CKG sudah ideal untuk deteksi awal dan rujukan, tetapi pengalaman HART menunjukkan bahwa diagnosis atau skrining saja jarang memicu perubahan perilaku yang berkelanjutan," katanya
Oleh karena itu, setelah skrining, diperlukan jalur tindak lanjut yang sistematis, antara lain konseling gaya hidup berkelanjutan, intervensi nutrisi untuk mereka yang berisiko malnutrisi, layanan kesehatan mental, serta program berhenti merokok dan manajemen stres yang terintegrasi dengan layanan primer.
Kedua, kapasitas puskesmas dan mitra layanan harus diperkuat agar dapat memberikan intervensi perilaku yang efektif dan memantau hasilnya. Pelatihan tenaga kesehatan dalam pendekatan geriatri, penggunaan modul SKILAS, serta keterampilan konseling perilaku akan meningkatkan kualitas tindak lanjut.
"Pengalaman CKG menunjukkan pula pentingnya inklusi digital dan jalur pendaftaran multi-channel-melalui aplikasi SATUSEHAT, chatbot WhatsApp, dan pendaftaran bantuan di puskesmas agar skrining dan tindak lanjut dapat diakses oleh lansia yang tidak melek teknologi," katanya.
Ketiga, data yang dikumpulkan oleh CKG harus dimanfaatkan secara strategis untuk menargetkan intervensi. Provinsi atau komunitas dengan prevalensi gangguan mobilitas atau kognitif tinggi dapat diprioritaskan untuk program rehabilitasi, pelatihan pengasuh, dan modifikasi lingkungan agar lebih aman bagi lansia.
"Menambahkan modul biomarker atau perangkat pengukur pada sebagian sampel, serta menghubungkan data skrining dengan rekam medis dan registri nasional, akan memungkinkan evaluasi dampak intervensi jangka panjang, sebuah langkah yang juga direkomendasikan oleh tim HART untuk memperdalam bukti dan mendukung kebijakan berbasis data," katanya.
Baca juga: Menkes: CKG mampu perkaya data BGSI guna kembangkan pengobatan presisi
Baca juga: Kemenkes ajak para petani ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Keempat, pendekatan multisektoral diperlukan untuk mengatasi determinan sosial kesehatan lansia. Intervensi yang efektif tidak hanya berasal dari layanan kesehatan.
Hal itu perlu mencakup perencanaan kota yang menyediakan ruang publik aman untuk aktivitas fisik, program pangan lokal yang mendukung pola makan sehat, serta dukungan sosial dan ekonomi untuk keluarga pengasuh, guna memperbesar peluang lansia tetap sehat dan mandiri.
"Perubahan kecil yang dilakukan bersama meningkatkan aktivitas fisik, tidur lebih teratur, mengelola stres, berhenti merokok, dan memperbaiki pola makan akan lebih ampuh bila didukung oleh sistem skrining yang menjangkau luas dan layanan tindak lanjut yang nyata," katanya.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































