Kebiasaan membaca perlu menjadi identitas bangsa

1 week ago 9

Jakarta (ANTARA) - Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Joko Santoso mengatakan kebiasaan membaca perlu menjadi identitas bangsa Indonesia pada peluncuran dan bedah buku "Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu" di Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Menurutnya, membaca merupakan fondasi intelektual yang membangun karakter dan pandangan hidup para pemimpin besar Indonesia, yang menjadi gagasan besar untuk membawa perubahan.

"Membaca bagi mereka bukan sekadar hobi, melainkan pembentuk identitas. Buku yang dibaca menjadi dasar lahirnya gagasan besar dan keberanian untuk membawa perubahan," ujar Joko, di Jakarta, Rabu.

Ia mencontohkan kisah Mohammad Hatta yang membawa buku ke penjara dan menjadikan buku sebagai mahar pernikahan sebagai simbol kecintaan mendalam pada ilmu. Joko Santoso juga menegaskan, membaca bukan aktivitas sederhana yang bisa dijelaskan secara hitam-putih.

"Mengapa orang membaca dan perlu membaca tidak bisa dijawab hanya dengan ya atau tidak? Karena diperlukan narasi untuk memperkuat argumen dan memberi daya sugesti agar membaca menjadi kesadaran," tuturnya.

Ia juga menyoroti riset yang dilakukan oleh Program Internasional untuk Student Assessment (PISA) yang menekankan variabel matematika, sains, dan membaca, yang pada tahun 2022 menunjukkan kemerosotan minat membaca.

"Kalau kita bandingkan misalnya dari tahun 2009, itu kita menurun. Nah, tetapi saya kira ini menjadi satu kewajiban kita semua. Jadi, kita tidak bisa bicara soal gerakan penguatan literasi atau budaya baca itu hanya ramai pada berbagai macam selebrasi saja, tetapi harus ada praktik-praktik langsung," ucapnya.

Pengurus Pusat IPI menggelar bedah buku dan seminar literasi nasional bertajuk “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” di Ruang Teater Perpustakaan Nasional RI. Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pegiat literasi, akademisi, dan praktisi.

Empat penulis buku “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” turut memaparkan gagasan mereka. Para penulis tersebut adalah Komaruddin, Joko Santoso, Antoni Ludfi Arifin, dan Joko Nugroho, yang menyoroti pengalaman personal dan refleksi intelektual tentang makna membaca dalam perjalanan hidup dan profesi.

Baca juga: Perpusnas sarankan istri kepala daerah turut aktif jadi duta baca

Baca juga: 6 kesalahan membaca yang hambat kecepatan dan pemahaman

Baca juga: Ini alasan mengapa orang sukses punya kebiasaan baca buku

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |