Jalan pulang para srikandi jalanan

5 hours ago 2

Surabaya (ANTARA) - Di tengah lalu lintas Kota Surabaya yang nyaris tak pernah berhenti, semakin banyak perempuan mengenakan jaket ojek daring, menggenggam setang sepeda motor, lalu menyusuri jalan demi jalan untuk mengantar penumpang atau makanan.

Di balik perjalanan itu, tersimpan kisah tentang ibu yang mengejar biaya sekolah anak, istri yang menggantikan suami kehilangan pekerjaan, hingga perempuan yang memilih tetap bekerja meski ruang geraknya dibatasi keadaan.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan wajah ekonomi perkotaan. Pekerjaan yang dahulu identik dengan laki-laki, kini menjadi ruang bertahan hidup bagi banyak perempuan. Fleksibilitas waktu membuat profesi pengemudi ojek daring menjadi pilihan ketika lapangan kerja formal sulit dijangkau.

Namun, fleksibilitas itu juga menyimpan risiko. Pendapatan bergantung pada jumlah pesanan, perlindungan kerja terbatas, dan keselamatan menjadi taruhan setiap kali roda mulai berputar.

Di Surabaya, Jawa Tinur, pemerintah kota mulai membaca persoalan tersebut bukan sekadar sebagai isu ketenagakerjaan, melainkan bagian dari pembangunan keluarga.

Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya menunjukkan terdapat sekitar 21.000 hingga 22.000 pengemudi ojek daring di kota itu, dengan sedikitnya 1.008 di antaranya merupakan perempuan.

Jumlah tersebut memang belum dominan, tetapi cukup menggambarkan bahwa perempuan kini menjadi bagian penting dari ekonomi digital perkotaan.


Melampaui bantuan

Selama ini, perhatian terhadap pengemudi ojek daring sering berhenti pada bantuan sosial atau pemberian perlengkapan kerja. Padahal, kebutuhan terbesar mereka jauh lebih kompleks.

Pemkot Surabaya mencoba menggeser pendekatan tersebut. Perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan diberikan kepada pengemudi sebagai langkah awal mengurangi risiko lahirnya kemiskinan baru ketika pencari nafkah mengalami kecelakaan atau meninggal dunia. Kebijakan ini penting karena jaminan sosial tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga menjaga keberlangsungan keluarga yang bergantung pada penghasilan harian.

Langkah berikutnya adalah pemberdayaan. Pengemudi perempuan didorong memiliki keterampilan lain, mulai dari menjahit, tata rias, hingga usaha rumahan. Gagasannya sederhana, tetapi strategis. Semakin banyak sumber penghasilan yang dimiliki keluarga, semakin kecil ketergantungan terhadap pekerjaan berisiko tinggi di jalan.

Pendekatan ini sejalan dengan arah pembangunan yang menempatkan perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga, bukan sekadar penerima bantuan. Bahkan berbagai pihak mulai ikut terlibat.

Pada Juli 2026, misalnya, kolaborasi Pemerintah Kota Surabaya dengan Ikatan Alumni Magister Manajemen Universitas Ciputra memberikan dukungan kepada 100 pengemudi ojek daring perempuan melalui program Ride to Hope sebagai bentuk penghargaan, sekaligus penguatan semangat mereka.

Meski demikian, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa pelatihan saja belum otomatis meningkatkan kesejahteraan. Ada peserta yang telah menerima pelatihan dan bantuan peralatan, tetapi usahanya tidak berkembang. Persoalannya bukan lagi pada modal fisik, melainkan keberanian memulai, kemampuan mengelola usaha, akses pasar, hingga pendampingan jangka panjang.

Di sinilah pemberdayaan sering menghadapi tantangan terbesar. Memberikan mesin jahit jauh lebih mudah dibanding membangun mental kewirausahaan. Menyelenggarakan pelatihan satu hari jauh lebih sederhana dibanding memastikan usaha bertahan selama bertahun-tahun.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (kanan) berbincang dengan pengemudi ojek daring Anna Indrawati (tengah) saat mengunjungi rumahnya di Kelurahan Perak Utara, Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menawarkan pekerjaan melalui Program Padat Karya Pemerintah Kota Surabaya kepada Anna dan suaminya sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. ANTARA

(ANTARA FOTO/Diskominfo Surabaya.)

Ekosistem tumbuh

Penguatan ekonomi perempuan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Platform digital, perusahaan, perguruan tinggi, komunitas, lembaga keuangan, hingga masyarakat memiliki ruang untuk berkolaborasi.

Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting karena persoalan yang dihadapi pengemudi ojek daring perempuan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga akses terhadap perlindungan sosial, peningkatan kapasitas, hingga peluang mengembangkan usaha yang berkelanjutan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |