Jakbar sarankan warga beternak lele bantu atasi masalah sampah

5 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Barat menyarankan masyarakat beternak lele sebagai salah satu cara membantu mengatasi masalah sampah, khususnya sampah organik.

"Nah lele ini kan paling gampang untuk memakan sampah organik, ya kan? Nah itu yang paling efektif, di buatlah ternak lele," kata Kasudin LH Jakbar, Achmad Hariadi saat dihubungi di Jakarta, Senin malam.

Hal itu disampaikan menyusul adanya pengurangan kuota pembuangan sampah Jakarta Barat ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang dari 308 menjadi 190 truk per hari imbas insiden longsor pada 8 Maret lalu di TPST terbesar di Asia Tenggara itu.

Menurut Hariadi, pembatasan kuota itu mesti menjadi alarm bagi masyarakat untuk semakin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah.

"Melihat kondisi seperti ini tidak bisa lagi mengandalkan Bantar Gebang. Jadi warga harus bijak dalam mengelola sampah," katanya.

Beberapa wilayah yang belum memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) seperti di Kalianyar, Tambora, kata Hariadi, menjadikan solusi pengelolaan sampah semakin penting.

Warga di wilayah tersebut sebelumnya mengeluhkan penumpukan sampah di Jalan Kanal Banjir Barat, yang dinilai menimbulkan bau kian busuk serta mengganggu pengguna jalan.

Baca juga: Ini penjelasan Sudin LH Jakbar terkait penumpukan sampah di Kalianyar

"Misalnya di Kalianyar itu memang kan kesulitan, TPS tidak ada, tidak ada lahan. Maka memilah sampah, sekaligus warga aktif dalam membuat satu ekosistem, itu menjadi solusi," tutur Hariadi.

Selain itu, pihaknya juga menganjurkan masyarakat untuk menerapkan metode komposter agar penguraian sampah organik semakin cepat serta mengakali keterbatasan ruang bertani.

"Warga dengan lahan yang terbatas juga bisa membuat komposter menggunakan meterial tertentu seperti galon-galon, itu bisa dibikin komposter," kata dia.

Ia menegaskan, jika warga menemukan kesulitan dalam pemilahan sampah, petugas Sudin LH siap turun tangan. "Jadi untuk semua warga mohon maaf, mari memilah sampah. Kalau memang warga sudah milah sampah tapi tidak bisa menyelesaikan, bisa minta tolong LH untuk menangani sampah organiknya," ujarnya.

Sebelumnya, Sudin LH Jakarta Barat menerapkan strategi pengangkutan bertahap untuk merespons pembatasan kuota pembuangan sampah sebanyak 38 persen ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

"Jadi, truk-truk kecil tidak kita operasikan ke Bantar Gebang, tapi daya angkut mereka dipadatkan ke truk besar untuk diangkut ke Bantar Gebang," katanya.

Baca juga: Ini strategi Jakbar untuk atasi pembatasan sampah ke Bantar Gebang

Menurut dia, pengurangan kuota pembuangan sampah Jakbar ke Bantar Gebang dari 308 menjadi 190 truk per hari dapat diakali dengan strategi tersebut.

"Kita kirim dua rit. Yang biasa satu rit jadi dua rit. Satu rit truk besar mengangkut yang sudah rutin, satu rit lagi kumpulan dari beberapa truk kecil," katanya.

Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |