Surabaya (ANTARA) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mendukung kontribusi sains melalui keterlibatan dalam Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana guna memperkuat sinergi pemulihan dampak banjir dan tanah longsor di Aceh serta wilayah Sumatra lainnya.
Rektor ITS Bambang Pramujati dalam keterangan diterima di Surabaya, Selasa, mengatakan konsorsium perguruan tinggi dibentuk sebagai respons atas kompleksitas bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh dan sebagian wilayah Sumatra.
“Banyak perguruan tinggi telah bergerak membantu, namun untuk menghasilkan dampak yang lebih besar diperlukan sinergi bersama,” katanya.
Menurut dia, bencana tersebut berdampak sistemik terhadap permukiman, infrastruktur, ekonomi lokal, serta ketahanan sosial.
Sejalan dengan itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) berinisiatif membentuk Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Baca juga: Prabowo bentuk Satgas Rehabilitasi Pascabencana diketuai Mendagri
Dalam konsorsium tersebut, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kemendiktisaintek berperan sebagai penggerak strategis yang memfasilitasi pembentukan konsorsium, mengoordinasikan peran perguruan tinggi, serta mendorong pemanfaatan hasil riset dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung kebijakan pemulihan.
Ia menjelaskan dalam konsorsium tersebut ITS dipercaya sebagai Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Geospasial serta Subkoordinator Pokja Perumahan dan Permukiman.
Selain itu, terlibat dalam berbagai pokja lain, antara lain kesehatan dan psikososial, pendidikan dan literasi kebencanaan, infrastruktur, pemulihan ekonomi dan sosial, manajemen risiko, serta tata ruang.
Ia menjelaskan kontribusi ITS pada bidang geospasial dilakukan melalui pemetaan resolusi tinggi untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan, zonasi kerentanan, serta perubahan bentang alam pasca-bencana.
“Data spasial menjadi dasar penting dalam perencanaan pemulihan agar dapat dilakukan secara tepat sasaran dan berbasis risiko,” kata Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut.
Pada bidang perumahan dan permukiman, ITS mengembangkan sistem penilaian hunian serta desain hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) berbasis risiko yang terintegrasi dengan data spasial dan perencanaan tata ruang.
Pendekatan ini melanjutkan peran aktif Satuan Tugas (Satgas) Kemanusiaan ITS yang dipimpin Prof Dr Nurul Jadid SSi MSc, yang telah terjun langsung ke Aceh dan wilayah Sumatra lainnya, sejak Desember 2025.
Melalui konsorsium itu, ITS menargetkan luaran konkret berupa peta risiko terintegrasi, dashboard pemantauan rehabilitasi dan rekonstruksi, rekomendasi teknis perumahan dan infrastruktur, serta policy brief bagi pemerintah pusat dan daerah sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Seluruh output nantinya akan disusun berbasis sains guna memastikan pemanfaatan anggaran pemulihan bencana efektif dan berkelanjutan,” ujar Bambang.
Ia mengatakan langkah tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam penanganan kebencanaan, mulai dari tsunami Aceh 2004, gempa Lombok 2018, erupsi Semeru, hingga berbagai bencana hidrometeorologi terkini.
Baca juga: Mendagri percepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera
Baca juga: Menguji kebijakan pemulihan pascabencana di Aceh
Pewarta: Willi Irawan
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































