Indonesia tunggu investigasi AS untuk kepastian perjanjian tarif ART

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia masih menunggu hasil investigasi Amerika Serikat (AS) untuk memastikan kelanjutan kebijakan perjanjian tarif dagang Arrangement on Reciprocal Trade (ART), yang telah diteken oleh pemerintah kedua negara pada 19 Februari 2026.

Menteri Perdagangan Budi Santoso di Jakarta, Senin, menjelaskan saat ini AS tengah melakukan investigasi berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974 (Trade Act of 1974) terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia, terutama yang memiliki surplus perdagangan.

Ia mengatakan sebelumnya kebijakan terkait ART sempat dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS, sehingga saat ini hanya diberlakukan tarif sementara sebesar 10 persen dalam periode terbatas sekitar 150 hari.

Menurut Budi, kepastian kebijakan setelah periode tersebut menjadi perhatian pemerintah Indonesia, mengingat besarnya nilai perdagangan dengan AS.

“Pertanyaannya nanti setelah 150 hari bagaimana,” katanya.

Budi menyebutkan terdapat dua isu utama yang menjadi fokus dalam investigasi tersebut, yakni biaya tenaga kerja dan kelebihan kapasitas manufaktur.

Namun, ia memastikan Indonesia telah menyelesaikan kedua isu tersebut dalam proses klarifikasi dengan otoritas AS.

Lebih lanjut, Mendag berharap keberadaan ART dapat memberikan perlakuan yang lebih baik bagi Indonesia dibandingkan negara lain dalam mengakses pasar AS.

Ia menambahkan sejumlah negara juga tengah berupaya menjalin kesepakatan serupa dengan AS, sehingga Indonesia perlu memanfaatkan momentum yang ada.

“Banyak negara lain seperti Thailand pun sekarang mengejar ingin segera menandatangani ART. Kita sudah (menandatangani) ART. Harapan kami ketika dengan ART itu akan diperlakukan berbeda, artinya diperlakukan lebih baik,” kata Budi.

Pasar AS memiliki peran penting bagi ekspor Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai sekitar 30,9 miliar dolar AS pada 2025 dan surplus 18,11 miliar dolar AS.

Ia menyampaikan pemerintah berharap kepastian kebijakan ART dapat membuka peluang lebih luas bagi produk manufaktur Indonesia seperti alas kaki, pakaian jadi, dan elektronik untuk masuk ke pasar AS.

Baca juga: Pengadilan AS izinkan sementara tarif global Trump berlaku

Baca juga: RI bakal temui USTR pada 12 Mei, bahas lanjutan investigasi AS

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |