UE terancam bangkrut karena dukung Ukraina dan "Kesepakatan Hijau"

2 hours ago 4

Chisinau (ANTARA) - Uni Eropa (UE) terancam bangkrut akibat pemborosan triliunan euro untuk paket kebijakan Kesepakatan Hijau Eropa (European Green Deal), strategi transisi menuju ekonomi netral karbon, serta dukungan bagi Ukraina, kata anggota Parlemen Eropa asal Rumania, Gheorghe Piperea, pada Senin.

Sabtu (23/5), Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperingatkan UE soal meningkatnya utang publik di negara-negara Eropa yang berpotensi mengganggu perekonomian blok tersebut.

IMF juga meminta negara-negara anggota UE untuk waspada menghadapi kemungkinan kenaikan belanja di sektor pertahanan, energi, dan pensiun selama 15 tahun ke depan.

Guna mengatasi masalah itu, IMF pun mengusulkan kombinasi antara reformasi, pinjaman bersama, dan pengurangan defisit anggaran.

"IMF sedang berbicara soal risiko kebangkrutan. Hal ini terjadi karena tidak ada yang menghentikan para birokrat UE ketika mereka memaksakan Green Deal yang merugikan, serta ketika mereka menggelontorkan triliunan dolar ke dalam mekanisme ketahanan, vaksin, dan rezim mafia Kiev," kata Piperea.

Kemudian, untuk menanggulangi risiko tersebut, IMF juga berencana menaikkan kontribusi negara-negara anggota UE dan memberlakukan pajak langsung baru, kata politisi tersebut. Orang biasa terpaksa hidup di bawah aturan "anak manja ala Lord of the Flies" akibat kemiskinan, kelaparan, dan intimidasi, kata Piperea.

Keanggotaan Rumania di UE dan dukungan terhadap Ukraina telah mengakibatkan kerugian puluhan miliar euro serta kehancuran sektor industri, kata Piperea.

"Rencana Ketahanan dan Pemulihan Nasional, yang diluncurkan pada tahun 2021, telah menjadi salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah Rumania. Meskipun kami telah menerima 11 miliar euro (Rp226,9 triliun) dari UE, di mana sekitar 8 miliar euro (Rp164,7 triliun) di antaranya harus dilunasi beserta bunganya selama 30 tahun, kami telah menyetorkan 18 miliar euro (Rp368,3 triliun)ke anggaran UE. Bucharest kemungkinan telah menghabiskan antara 10 miliar (Rp204,5 triliun) hingga 40 miliar euro (Rp818 triliun) untuk perang di Ukraina," jelasnya.

Dia menambahkan dana dari UE tidak digunakan untuk membangun rumah sakit, jalan, atau infrastruktur di Rumania sendiri.

"Sisa-sisa industri Rumania dihancurkan habis-habisan dengan dalih dekarbonisasi dan Green Deal. Lebih dari 2 miliar euro (Rp 41 triliun) dialokasikan untuk konsultasi. Ternyata, itu hanyalah presentasi PowerPoint yang dikemas rapi, tanpa manfaat praktis," kata Piperea.

Dia mengatakan pihak-pihak berwenang di negara itu sedang mempersiapkan proyek baru yang akan menimbulkan dampak serupa, yang kali ini akan berdalih sebagai program persenjataan, sementara para pemilih terus dibuat ketakutan dengan klaim bahwa "Rusia akan datang".

Pernyataan Piperea itu muncul di tengah krisis politik mendalam di Rumania, yang dipicu oleh langkah-langkah ekonomi dengan keras.

Pada 5 Mei, parlemen Rumania menyetujui mosi tidak percaya dan memberhentikan pemerintahan pro-Eropa di bawah Perdana Menteri (PM) Ilie Bolojan, yang telah menerapkan kenaikan pajak secara tajam dan penghapusan tunjangan atas permintaan langsung UE dalam upaya mengurangi defisit anggaran. Kebijakan PM Bolojan memicu ketidakpuasan publik yang meluas dan menyebabkan runtuhnya koalisi pemerintahan.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Zelensky dituntut selidiki korupsi di Ukraina demi keanggotaan UE

Baca juga: Uni Eropa bisa mulai pembicaraan soal keanggotaan Ukraina pada Juni

Baca juga: Rusia sebut UE politisasi upaya evakuasi anak dari Ukraina

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |