Ekonom: Akselerasi belanja pemerintah bantu jaga permintaan domestik

4 hours ago 6
Belanja pemerintah pada triwulan I menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi di tengah lemahnya konsumsi kelas menengah dan perlambatan manufaktur

Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun membantu menjaga permintaan domestik.

Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat, menyebutkan belanja bantuan sosial (bansos), proyek pemerintah, hingga program prioritas menjadi faktor utama yang menopang permintaan dalam negeri pada triwulan I-2026.

Sebagaimana laporan Badan Pusat Statistik (BPS), belanja pemerintah mengalami pertumbuhan sebesar 21,81 persen. Komponen ini berkontribusi 1,26 persen terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) triwulan I-2026 yang mencetak pertumbuhan sebesar 5,61 persen.

“Belanja pemerintah pada triwulan I menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi di tengah lemahnya konsumsi kelas menengah dan perlambatan manufaktur,” ujar Rizal.

Namun, dia menyoroti, efektivitas belanja pemerintah masih belum optimal mengingat sebagian besar masih didorong belanja rutin.

Baca juga: Pengamat nilai peran swasta penting lanjutkan momentum ekonomi

Baca juga: Indef nilai insentif infrastruktur EV dan energi bersih pacu ekonomi

Sementara PMI manufaktur sempat turun mendekati zona stagnan dan daya beli masyarakat masih membutuhkan dukungan.

“Artinya, fiskal saat ini lebih berfungsi sebagai bantalan perlambatan ekonomi dibanding pendorong ekspansi baru,” kata Rizal.

Untuk triwulan berikutnya, Rizal berpendapat dampak belanja pemerintah masih akan menopang pertumbuhan, tetapi ruang akselerasinya mulai terbatas jika sektor swasta belum pulih kuat.

Strategi front loading Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai cukup membantu menjaga pertumbuhan triwulan I tetap di atas 5 persen, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada kualitas belanja.

“Jika belanja hanya mendorong konsumsi jangka pendek tanpa memperkuat investasi, industri dan penciptaan lapangan kerja, maka efek penggandanya akan cepat melemah,” jelasnya.

Oleh sebab itu, dia merekomendasikan pemerintah untuk memperluas fokus dari percepatan serapan anggaran ke memastikan belanja produktif.

Belanja pemerintah perlu diarahkan kepada program yang memiliki efek berganda (multiplier effect) yang tinggi dan mampu menarik investasi domestik.

Strategi itu dianggap penting untuk diterapkan guna menjaga pertumbuhan semester II agar tidak mengalami moderasi.

Baca juga: Indef: Optimalisasi material domestik kunci untuk capai 3 Juta Rumah

Baca juga: Indef yakin insentif elektrifikasi kendaraan investasi pacu ekonomi

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |