Domba hasil penyuntingan gen pertama di India genap berusia satu tahun

1 month ago 25

India (ANTARA) - Domba hasil penyuntingan gen pertama di India baru saja genap berusia satu tahun, dan para peneliti yang mengembangkannya mengatakan kondisinya baik.

Laman BBC, Sabtu, melaporkan, domba ini lahir pada 16 Desember tahun lalu di Kashmir yang dikelola India, dan diberi nama Tarmeem, kata dalam bahasa Arab yang berarti modifikasi atau penyuntingan.

Tarmeem ditempatkan di kandang khusus di Universitas Pertanian Sher-e-Kashmir di Srinagar, kota utama di wilayah tersebut, bersama saudara kembarnya yang tidak mengalami penyuntingan gen.

Para peneliti di universitas itu mengatakan bahwa mereka menggunakan teknologi CRISPR—sebuah sistem biologis untuk mengubah DNA—dalam pengembangannya.

Baca juga: Riuh arena domba dan asa dari peternakan rakyat

Pada dasarnya, teknologi ini memungkinkan ilmuwan menggunakannya seperti gunting untuk memotong bagian gen yang menyebabkan kelemahan atau penyakit.

“Kami mengekstraksi sejumlah embrio dari domba yang sedang hamil dan menyunting satu gen tertentu—yang dikenal sebagai gen myostatin—yang berdampak negatif pada pertumbuhan otot,” kata peneliti Dr Suhail Magray.

Embrio atau sel telur yang telah dibuahi tersebut disimpan dalam kondisi laboratorium yang terkontrol selama dua hingga tiga hari, lalu dipindahkan ke seekor domba betina sebagai induk pengganti.

“Setelah itu alam mengambil alih—150 hari kemudian, anak domba lahir,” ujarnya.

“Tujuan kami adalah meningkatkan massa otot domba, dan dengan menonaktifkan gen myostatin, kami berhasil melakukannya,” Magray menambahkan.

Setelah Tarmeem genap berusia satu tahun awal bulan ini, Prof Riaz Shah, dekan fakultas ilmu kedokteran hewan sekaligus peneliti utama proyek ini, memberikan kabar terbaru.

Baca juga: Festival Domba Batur ramaikan pergelaran DCF 2025 di Dieng

“Pertumbuhannya baik, dengan parameter fisiologis, biokimia, dan fisik yang normal. Pertumbuhan otot Tarmeem, sesuai perkiraan, menunjukkan peningkatan yang signifikan—sekitar 10 persen—dibandingkan saudara kembarnya yang tidak diedit gennya. Saya pikir peningkatan ini kemungkinan akan bertambah seiring bertambahnya usia.” kata dia.

Eksperimen masih terus dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan dan tingkat kelangsungan hidupnya. Domba tersebut dipelihara di lingkungan yang aman dengan pengawasan ketat, kata Prof Shah, seraya menambahkan bahwa mereka telah mengajukan proposal penelitian kepada pemerintah untuk mendapatkan dukungan pendanaan.

Domba telah dimodifikasi secara genetik dan disunting gennya selama puluhan tahun, terutama untuk tujuan penelitian dan medis.

Eksperimen awal, seperti domba Inggris bernama “Tracy” pada 1990-an, menghasilkan protein terapeutik dalam susu. Saat ini, CRISPR digunakan untuk mempelajari sifat-sifat seperti pertumbuhan otot, ketahanan terhadap penyakit, dan kesuburan.

Tim beranggotakan delapan orang yang mengembangkan domba hasil penyuntingan gen pertama di India ini telah bekerja selama tujuh tahun.

“Ada beberapa kegagalan di awal. Kami mencoba berbagai strategi, dan terobosan akhirnya terjadi pada Desember 2024. Kami melakukan tujuh prosedur bayi tabung (IVF), menghasilkan lima kelahiran hidup dan dua keguguran. Penyuntingan gen hanya berhasil pada satu kasus,” kata Prof Shah.

“Kami memulai dari nol. Namun sekarang kami telah menstandarkan praktiknya dan saya yakin tingkat keberhasilannya akan tinggi di masa depan.” Shah menambahkan.

Para ilmuwan antusias dengan keberhasilan eksperimen ini. Mereka mengatakan teknologi ini dapat membantu memastikan produksi daging domba yang berkelanjutan di Lembah Kashmir, yang mengonsumsi sekitar 60.000 ton per tahun tetapi hanya memproduksi setengahnya. Tentu saja, hal ini bergantung pada persetujuan pemerintah untuk peternakan atau konsumsi.

“Lahan semakin sempit, air semakin menipis, populasi bertambah, tetapi ruang untuk memproduksi pangan justru menyusut,” kata Prof Nazir Ahmad Ganai, wakil rektor universitas tersebut.

“Negara bagian kami kekurangan pasokan daging domba, tetapi penyuntingan gen dapat meningkatkan bobot tubuh domba hingga 30 persen. Ini akan sangat berguna untuk produksi pangan berkelanjutan karena berarti lebih sedikit hewan dapat menghasilkan lebih banyak daging,” ujarnya.

Jika pemerintah memberikan izin untuk mereplikasi teknologi ini dalam jumlah besar, Prof Ganai mengatakan mereka dapat menggunakannya untuk beternak domba dan kemudian hewan lain.

Baca juga: Peternak kambing di Kudus pamerkan aneka kambing dan domba pilihan

“Banyak lembaga di India yang sedang mengerjakan babi, kambing, dan unggas. Masa depannya cerah,” tambahnya.

Ditemukan pada tahun 2012, teknologi penyuntingan gen mengantarkan para penemunya, Emmanuelle Charpentier dan Jennifer Doudna, meraih Hadiah Nobel tahun 2020 dan telah merevolusi penelitian medis.

Namun, teknologi ini tetap kontroversial, dengan perdebatan etika yang dipicu oleh kemiripannya dengan rekayasa genetika (GM).

Para ilmuwan menekankan bahwa penyuntingan gen dan GM pada dasarnya berbeda: penyuntingan gen memodifikasi gen yang sudah ada pada tumbuhan, hewan, atau manusia, sedangkan GM melibatkan pemasukan gen asing.

Negara-negara seperti Argentina, Australia, Brasil, Kolombia, dan Jepang menganggap beberapa ikan, sapi, dan babi hasil penyuntingan gen sebagai alami dan mengizinkannya untuk dikonsumsi.

Amerika Serikat dan China menggunakan teknologi ini untuk menciptakan tanaman dan hewan yang lebih produktif dan tahan penyakit. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) baru-baru ini menyetujui babi yang ditingkatkan secara genetik, dan Inggris akan mengizinkan pangan hasil penyuntingan gen mulai tahun depan.

Para ilmuwan juga mengagumi penerapan CRISPR dalam pengendalian penyakit pada manusia.

Dokter di AS dan beberapa negara lain telah menggunakan penyuntingan gen untuk mengobati gangguan darah langka seperti talasemia dan anemia sel sabit. Tahun ini, teknologi ini berhasil digunakan di AS untuk mengobati bayi yang lahir dengan kelainan genetik langka, serta di Inggris pada seorang balita dengan sindrom Hunter.

Namun, di banyak wilayah dunia, termasuk Uni Eropa, pembatasan masih ketat, meskipun tahun lalu Parlemen Eropa memilih untuk mengurangi pengawasan regulasi terhadap tanaman yang dibuat melalui penyuntingan gen.

Kementerian Pertanian India juga tahun ini menyetujui dua varietas padi hasil penyuntingan gen yang diharapkan dapat meningkatkan hasil panen. Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah Tarmeem si domba akan diperlakukan sebagai varian genetik alami di India.

“India menjadi negara surplus pangan berkat sains, khususnya tanaman berproduksi tinggi yang dikembangkan pada 1960-an. Dengan domba dan hewan lain hasil penyuntingan gen, India dapat melakukan hal yang sama untuk industri daging,” ujar Prof Ganai optimistis.

Baca juga: Kemdiktisaintek dukung riset di sektor peternakan domba

Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |