Jakarta (ANTARA) - Dokter umum Rumah Sakit Prikasih, Fatmawati, Jakarta Selatan, Gia Pratama menyebut Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat melalui deteksi dini penyakit.
Gia mengemukakan, sebelum Program CKG berlangsung, tepatnya pada tahun 2023, persentase masyarakat Indonesia yang secara sadar memeriksakan kesehatannya masih tujuh persen, sedangkan setelah CKG, persentasenya meningkat menjadi 10 persen.
"Sebelum Pemilu (tahun 2023), dari 100 persen, hanya tujuh persen yang ikhlas atau dipaksa kantor melalui medical check up, oleh karena itu, ya sudah ada Program CKG itu sama pemerintah, tetapi itupun angkanya belum sesuai yang kita harapkan, tetapi lumayan lah, sekitar 10 persen sekarang karena Pemerintah juga tahu bahwa BPJS Kesehatan enggak akan sanggup kalau menanggung pembiayaan penyakit seluruh masyarakat Indonesia," ujar dia di Jakarta, Selasa.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyakit jantung menjadi beban pembiayaan BPJS Kesehatan tertinggi sepanjang Januari hingga Agustus 2025 dengan total Rp527,1 miliar, disusul penyakit ginjal sebesar Rp460,7 miliar, dan kanker di urutan ketiga sebesar Rp302,1 miliar.
Hal tersebut dipicu oleh pola hidup masyarakat yang kurang sehat akibat tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, hingga kegemukan atau obesitas karena pola makan yang tidak sehat dan kurangnya olahraga.
Data dari Kemenkes juga menunjukkan hampir 75 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM), dengan penyakit kardiovaskular (PKV), seperti serangan jantung dan stroke, menjadi penyumbang terbesar yang merenggut hampir 800.000 nyawa setiap tahunnya.
"Sudah banyak studi yang mengungkapkan kalau masyarakat Indonesia itu paling malas jalan kaki. Jumlah langkah kita per harinya itu hanya 3.000, jadi masyarakat Indonesia itu benar kalau dibilang paling santai. Namun, karena malas gerak (mager) itu, risiko penyakit tidak menular kita jadi semakin tinggi," katanya.
Selain tiga penyakit katastropik tersebut, ancaman gagal ginjal juga menjadi permasalahan kesehatan utama di Indonesia. Gia menyebutkan, di rumah sakit tempat ia berpraktik, lebih dari 180 ribu orang tercatat rutin cuci darah.
"Yang seminggu dua kali cuci darah itu 180 ribu, maka dari itu market (pasar) jual ginjal itu jadinya besar," ucap Gia sambil bercanda.
Oleh karena itu, menurutnya peningkatan kesadaran melalui CKG sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya gaya hidup sehat, mulai dari makan dan olahraga teratur, hingga tidur yang cukup.
Baca juga: Kemenkes fokus pada penanganan hasil pemeriksaan CKG pada 2026
Baca juga: Presiden: CKG hemat miliaran dolar AS lewat peningkatan produktivitas
Baca juga: Kemenkes gelar CKG di 71 persen sekolah, periksa 25 juta peserta
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































