Jakarta (ANTARA) - Pemenang desain logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia Fajar Novario mengungkapkan bahwa proses perancangan logo terinspirasi dari cara pandang para pendiri bangsa dalam memaknai keberagaman Indonesia.
"Kami mengambil pandangan dari founding father (pendiri bangsa). Kami memosisikan diri kami sebagai founding father yang ada di Indonesia dulu, saat mereka merumuskan Pancasila," kata Fajar saat dihubungi ANTARA, Rabu.
Fajar mengatakan, dirinya dan timnya semula mencoba memasukkan puluhan simbol dan visual yang dianggap mewakili tema "Berdaulat, Adil, dan Makmur".
Baca juga: Logo HUT ke-81 RI dipilih lewat voting untuk hormati aspirasi publik
Namun, pendekatan tersebut kemudian diubah setelah mendapat masukan dari Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI).
"Kami dapat kritik yang lumayan pedas tuh dari asosiasi, karena terlalu muluk-muluk dan terlalu cocoklogi istilahnya," kata Fajar.
Dia kemudian memulai kembali proses kreatif dan mencoba mengambil perspektif para pendiri bangsa ketika merumuskan dasar negara.
Fajar lalu mengambil inspirasi dari pembacaan terhadap pemikiran para pendiri bangsa mengenai kesamaan nasib, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air.
"Nah, tiga ini kita coba direlevansikan dengan gaya desain dan tema yang ada sekarang. Dari instrumen-instrumen tiga itu tadi, mereka itu merumuskan Pancasila," kata pria lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Padang itu.
Namun, pendekatan tersebut tidak diwujudkan secara langsung dalam bentuk visual logo, melainkan menjadi cara berpikir dalam mencari simbol yang mampu merepresentasikan keberagaman Indonesia.
Dia akhirnya memilih menghadirkan bentuk visual yang sederhana, tegas, dan terbuka terhadap berbagai penafsiran masyarakat.
Fajar menjelaskan angka delapan yang saling menyilang dalam logo melambangkan kolektivitas, gotong royong, dan sinergi antarlapisan masyarakat.
Sedangkan keterhubungan antara angka delapan dan satu menggambarkan pertumbuhan menuju tujuan bersama.
Baca juga: Menekraf: Pemenang logo HUT RI angkat potensi talenta kreatif daerah
Desain tersebut juga lahir dari eksplorasi pola dan bentuk budaya Nusantara, kemudian menghadirkan simbol visual yang merepresentasikan ikatan masyarakat Indonesia di tengah keberagaman.
Fajar mengatakan dirinya sengaja tidak membuat logo dengan makna yang terlalu spesifik agar masyarakat dari berbagai latar budaya dapat menerjemahkannya sesuai pengalaman masing-masing.
"Apapun yang diterjemahkan oleh masyarakat, itu poinnya yang mempersatukan kita," ujarnya.
Dia menambahkan logo tersebut juga dirancang dengan mempertimbangkan prinsip keterbacaan dan kemudahan penerapan sehingga dapat digunakan secara luas pada berbagai media.
"Kita bikin semudah mungkin untuk diterima sama masyarakat, mudah dilihat, dan mudah diaplikasikan," kata dia.
Fajar, asal Padang, Sumatera Barat, yang juga merupakan co-founder Auman Design Bureau dan penggagas Padang Desain Area terpilih sebagai pemenang logo HUT ke-81 RI, setelah melalui serangkaian tahapan seleksi, mulai dari kurasi portofolio, wawancara, pendampingan intensif, hingga pemungutan suara publik.
Logo hasil karya Fajar memperoleh 44,73 persen suara dari total 68.569 suara yang masuk selama lima hari periode pemilihan.
Fajar, melalui desain logonya, mengangkat konsep "Kolektif, Sinergi, Bertumbuh". Logo karya Fajar itu pun mengalahkan empat pilihan logo lainnya, yaitu logo karya David Wirawan P asal Surakarta, Jawa Tengah, dengan konsep "8 Harapan, 1 Tujuan", logo karya Kanda Putra dari Denpasar, Bali, yang mengangkat konsep "Kemanusiaan yang Terhubung".
Selanjutnya, ada logo karya Rizkiawan dari Malang, Jawa Timur, yang mengangkat konsep "Berdaya, Setara, Sinergi Bersama", dan terakhir ada logo karya Tiffany Djohan asal Batam, Kepulauan Riau, yang mengangkat konsep "Demokrasi dan Kemandirian".
Baca juga: Istana: 300 pemilih logo HUT RI dapat hadiah suvenir hingga dana pendidikan Rp8,1 juta
Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































