Mataram (ANTARA) - Perum Bulog Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) memasang target penyerapan komoditas pangan setara beras sebanyak 240.660 ton sepanjang tahun 2026 guna menjaga ketahanan pangan sekaligus menstabilkan harga di tingkat petani.
"Pengadaan tetap dilakukan untuk gabah dan beras sekaligus agar Bulog dapat memaksimalkan penyerapan pada saat panen raya bersama mitra pengadaan," kata Kepala Bulog Wilayah NTB Mara Kamin Siregar dalam pernyataan di Mataram, Senin.
Mara menjelaskan target 240.660 ton tersebut menjadikan NTB kembali sebagai salah satu daerah dengan pengadaan beras terbesar secara nasional.
Penugasan tersebut mencakup pengadaan gabah dan beras secara simultan guna mengoptimalkan serapan saat musim panen raya.
Menurut dia, pengadaan dilakukan melalui berbagai skema untuk memastikan percepatan penyerapan hasil panen petani di seluruh wilayah kerja Bulog NTB.
Berdasarkan rincian target pengadaan, Bulog NTB merencanakan penyerapan gabah kering panen (GKP) sebanyak 407.443 ton, gabah kering giling (GKG) 24.196 ton, serta beras sebanyak 18.315 ton.
"Jika dikonversikan, total pengadaan tersebut setara dengan 240.660 ton beras," papar Mara.
Lebih lanjut ia menyampaikan target serapan itu tersebar di sejumlah wilayah sentra produksi pangan di NTB, meliputi Kantor Cabang Sumbawa, Bima, dan Lombok Timur yang selama ini menjadi lumbung produksi padi utama di daerah tersebut.
Bulog NTB menyiapkan strategi penguatan sarana logistik untuk mendukung pencapaian target, salah satunya dengan menambah kapasitas penyimpanan melalui pemanfaatan gudang sewa milik mitra dan pihak swasta.
"Kami menyiapkan gudang sewa dari mitra maupun swasta agar target serapan dapat tercapai sesuai penugasan pemerintah," ucap Mara.
Bulog Wilayah NTB juga memperkuat koordinasi lintas sektor dengan TNI dan pemerintah daerah melalui pembentukan Tim Jemput Pangan (TJP), pemantauan lokasi panen, serta pengawasan harga gabah dan beras di tingkat petani agar tidak berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Harga pembelian pemerintah saat ini masih mengacu pada ketentuan Rp6.500 per kilogram untuk GKP, Rp8.200 per kilogram untuk GKG, dan Rp12.000 per kilogram untuk beras dengan syarat mutu sesuai standar yang ditetapkan.
Pada 2025, Bulog NTB mencatat realisasi serapan setara beras mencapai 189.862 ton atau sekitar 104,36 persen dari target 181.925 ton.
Baca juga: Bulog: Stok beras di Lombok Timur mencapai 35 ribu ton
Baca juga: Bulog NTB pastikan stok beras aman hingga musim panen tahun depan
Baca juga: Bulog NTB jual 1.300 ton jagung kering pipil ke koperasi telur
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































