Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Minggu (29/3), mengatakan dia ingin "mengambil minyak di Iran" dan bisa mengambil Pulau Kargh, hub ekspor minyak di negara tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Trump mengatakan bahwa hal yang dia sukai adalah mengambil alih minyak di Iran dan membandingkan langkah AS terhadap Venezuela, di mana Washington bermaksud mengendalikan industri minyak "tanpa batas waktu" setelah secara paksa menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu.
Mengambil alih minyak Iran akan melibatkan perebutan Pulau Kharg, yang menangani lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran, demikian dilaporkan Financial Times, seraya memperingatkan bahwa "serangan" semacam itu berisiko meningkatkan jumlah korban dan memperpanjang perang.
"Mungkin kami merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kami punya banyak opsi. Itu juga berarti kami harus berada di sana untuk sementara waktu," kata Trump dalam laporan surat kabar tersebut.
Dia menambahkan bahwa dia yakin Iran memiliki sedikit atau tidak memiliki pertahanan di pulau tersebut.
"Kami bisa merebutnya dengan sangat mudah," tutur dia.
Pernyataan Trump tersebut muncul saat dia meningkatkan pengerahan militer AS di Timur Tengah sembari mempertimbangkan operasi militer untuk mengambil hampir 1.000 pon (sekitar 450 kilogram) uranium dari Iran, menurut pejabat AS.
Dia juga telah mendorong para penasihatnya untuk mendesak Iran agar setuju menyerahkan material itu sebagai syarat untuk mengakhiri perang, demikian dilaporkan The Wall Street Journal, mengutip sumber anonim yang mengetahui pemikiran Trump.
Pentagon dilaporkan mengerahkan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke kawasan tersebut, dengan Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS mengumumkan pada Sabtu (28/3) bahwa lebih dari 3.500 pasukan, termasuk 2.500 marinir, telah tiba di Timur Tengah.
Terlepas dari ancaman itu, Trump menyatakan pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran melalui "utusan" Pakistan menunjukkan kemajuan.
"Kesepakatan bisa dicapai dengan cukup cepat," kata dia.
Harga minyak melonjak sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, dengan harga minyak mentah Brent naik hingga 119,5 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.957) per barel pada Maret, level tertinggi sejak Juni 2022.
Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































