Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi teknologi pengelolaan sampah melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang, Bekasi dalam upaya menjawab tantangan krisis pengelolaan sampah perkotaan.
Dalam diskusi di Jakarta, Kamis, Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wiharja menjelaskan sistem ini bekerja dengan memanfaatkan sampah kota sebagai bahan bakar. Sampah yang masuk terlebih dahulu melalui proses pemilahan dan pengeringan untuk meningkatkan nilai kalor atau energi panas.
Selanjutnya, sampah dibakar pada tungku pembakaran untuk menghasilkan panas. Panas ini digunakan untuk menghasilkan uap yang kemudian menggerakkan turbin dan generator untuk menghasilkan listrik.
Gas hasil pembakaran sampah juga di-filter melalui serangkaian alat penyaring pencemaran udara yang telah sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Baca juga: Mendiktisaintek dorong kampus ciptakan inovasi penanganan sampah
"Pendekatan ini mampu mengolah dan mengurangi volume sampah secara cepat dan signifikan hingga 80 persen sekaligus mengkonversinya menjadi energi," kata Wiharja.
Wiharja memaparkan PLTSa Merah Putih yang telah dikembangkan BRIN masih berada pada skala demonstratif. Pilot project ini dibangun dengan kapasitas pengolahan sampah 100 ton per hari, yang sejak tahun 2018-2022 pengelolaannya bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kapasitas listrik yang dihasilkan sebesar 700 kilowatt (kW) yang digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan internal. Hal itu karena fasilitas ini masih berstatus pilot project dan belum berada pada skala komersial.
"Dalam skala pengembangan penuh, potensi energi dari sampah perkotaan di kota besar seperti Jakarta dapat mencapai puluhan megawatt, tergantung pada volume dan karakteristik sampah," ujarnya.
Wiharja memaparkan sejumlah keunggulan PLTSa Merah Putih, di antaranya adaptif terhadap karakteristik sampah Indonesia, yang umumnya memiliki kadar air tinggi dan belum terpilah dengan baik, efisiensi proses yang ditingkatkan, melalui integrasi pra-perlakuan sampah, hingga berbasis riset nasional, sehingga lebih mudah disesuaikan dengan kondisi lokal dan kebutuhan daerah.
Baca juga: BRIN: Efisiensi pembuatan bahan bakar dari sampah mencapai 60 persen
Menurut dia, sistem pengolahan waste to energy melalui proses insinerasi merupakan sebuah pendekatan yang telah terbukti dan teruji secara luas. Sejumlah negara maju seperti Jerman, Prancis, China, Jepang, Singapura, dan lain sebagainya telah lama menggunakan pendekatan ini untuk mengolah sampah kota.
PLTSa ini diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pengelolaan sampah terpadu di Indonesia. Teknologi ini tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan pada penimbunan (landfill), tetapi juga berkontribusi dalam penyediaan energi terbarukan.
Dengan pendekatan yang tepat, Wiharja menilai PLTSa dapat memainkan peran signifikan dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan ketahanan energi nasional.
Baca juga: BRIN paparkan capaian inovasi bahan bakar dari limbah plastik CN 54
Baca juga: BRIN bidik komersialisasi nuklir untuk daur ulang plastik pada 2027
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































