Jakarta (ANTARA) -
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital Boni Pudjianto mengingatkan guru dan orang tua untuk aktif mendampingi anak di ruang digital seiring meningkatnya ancaman hoaks, penipuan digital, hingga manipulasi konten berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang semakin sulit dikenali.
“Bapak dan ibu guru harus membagikan kepada anak didik mengenai bagaimana kita bisa membedakan hal-hal positif dan negatif, khususnya informasi yang tidak benar,” kata Boni dalam acara Literasi Digital Hari Pendidikan Nasional di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat, Senin (25/5) sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Komdigi, Selasa.
Boni mengatakan guru memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam melindungi anak dari berbagai ancaman di internet, mulai dari informasi palsu, scam digital, hingga penyalahgunaan teknologi AI.
Baca juga: KemenPPPA sebut Perpres 87/2025 perkuat PP Tunas lindungi anak
Menurut dia, peran guru saat ini tidak hanya terbatas pada penyampaian ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendamping sekaligus pembentuk karakter anak dalam menghadapi dinamika era digital.
“Guru menjadi pemegang kunci utama atau peran pokok yang sangat strategis. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tapi juga pendamping dan pembentuk karakter anak dalam menghadapi dinamika di era digital,” ujarnya.
Ia menilai pendampingan dari guru diperlukan untuk membangun budaya digital yang sehat, etis, dan bertanggung jawab sehingga tercipta ruang digital yang aman serta inklusif bagi anak.
Boni menjelaskan inklusivitas di ruang digital tidak hanya berkaitan dengan penyediaan akses dan konektivitas internet, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berpartisipasi, berekspresi, dan mendapatkan perlindungan saat menggunakan platform digital.
“Inklusifitas bukan hanya menghadirkan konektivitas atau akses, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berpartisipasi, berekspresi, dan terlindungi di ruang digital,” katanya.
Lebih lanjut, Boni menegaskan transformasi digital harus berjalan beriringan dengan upaya perlindungan anak di ruang digital yang ramah anak, inklusif, dan berkeadilan.
Ia menambahkan penguatan literasi digital juga penting untuk menjaga nilai empati, kesetaraan, dan keberpihakan kepada masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Baca juga: Ancaman di ruang digital buat perlindungan anak semakin mendesak
Baca juga: Lindungi anak, Pemkab Gianyar perkuat literasi digital pelajar SMP
Baca juga: KemenPPPA: Butuh kolaborasi solid untuk lindungi anak di dunia digital
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































