Ahli: Jangan abaikan diare berdarah dan kram perut berulang

2 hours ago 3
Jangan abaikan gejala diare berdarah atau kram perut yang berulang

Tangerang (ANTARA) - Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Eka Hospital MT Haryono, Jakarta, Prof Murdani Abdullah mengatakan gangguan pencernaan yang tidak kunjung sembuh dengan obat maag atau obat diare biasa, maka termasuk gejala radang usus kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD).

Ia mengatakan IBD berbeda dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS) yang hanya berupa gangguan fungsi pencernaan tanpa luka. Sedangkan IBD adalah penyakit serius yang menyebabkan kerusakan hingga perdarahan pada usus.

Secara medis, lanjutnya, ada dua radang usus kronis yakni Kolitis ulseratif (ulcerative colitis) yang hanya terjadi pada lapisan usus besar dan rektum. Ciri khasnya adalah munculnya luka terbuka yang merata pada dinding saluran pencernaan yang menyebabkan perdarahan terus-menerus.

Lalu penyakit Crohn yakni peradangan menyerang bagian manapun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga anus. "Selain itu peradangan pada penyakit Crohn dapat menembus seluruh ketebalan dinding usus secara acak," kata Prof Murdani di Tangerang, Selasa.

Baca juga: Ahli: Radang usus kronis picu komplikasi serius, waspadai gejalanya

Ia menyarankan masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala buang air besar cair secara terus-menerus selama lebih dari dua minggu, yang seringkali disertai darah segar, lendir, atau nanah.

Kemudian gejala kram perut di area bawah atau sekitar pusar, yang biasanya terasa sakit setelah makan. Berat badan turun secara drastis tanpa diet, karena usus yang meradang tidak mampu menyerap nutrisi makanan.

Selain itu ada rasa lelah terus menerus meski sudah beristirahat, yang disebabkan tubuh yang kehabisan energi untuk melawan radang atau akibat anemia. Kemudian demam ringan dan sering berkeringat akibat respon sistem imun terhadap infeksi dan peradangan aktif di dalam tubuh.

"Hingga saat ini, penyebab pasti IBD belum diketahui. Namun para ahli memastikan bahwa kondisi ini melibatkan gangguan sistem kekebalan tubuh. Sistem imun pasien mengalami gangguan, bukannya melawan virus atau bakteri, mereka justru menyerang sel-sel sehat di saluran pencernaan sendiri secara agresif," katanya.

Baca juga: Pengobatan dan cara mencegah penyakit radang usus

Sementara itu beberapa faktor penting yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap IBD yakni riwayat genetik, faktor usia, gaya hidup buruk, penggunaan obat anti-nyeri.

"Menunda pengobatan IBD dapat menyebabkan komplikasi fatal yang mengancam nyawa. Maka itu harus segera melakukan pemeriksaan," ujarnya.

Meskipun IBD merupakan penyakit jangka panjang yang belum bisa disembuhkan total, penanganan medis dapat menekan peradangan secara signifikan hingga pasien mencapai fase remisi.

Beberapa jenis pengobatan itu adalah terapi obat-obatan, pengaturan pola makan, dan tindakan bedah jika obat-obatan sudah tidak mempan atau telah terjadi komplikasi serius seperti kebocoran dan penyumbatan usus.

"Jangan abaikan gejala diare berdarah atau kram perut yang berulang. Penanganan IBD sejak dini menggunakan prosedur diagnostik modern, seperti kolonoskopi, sangat krusial untuk menyelamatkan jaringan usus dari kerusakan permanen," katanya.

Baca juga: Keracunan makanan berulang sebabkan peradangan kronis di saluran cerna

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |