Nabire (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire menyebut fenomena El Nino mengubah pola harga pangan di daerah itu ditandai dengan meningkatnya pasokan sejumlah komoditas pertanian sehingga mendorong terjadinya deflasi pada Juli 2026.
Kepala BPS Kabupaten Nabire Dio Benuvin Perkasa Ginting di Nabire, Senin, mengatakan fenomena El Nino menyebabkan hari tanpa hujan berlangsung lebih lama sehingga mempercepat proses pematangan buah dan hasil pertanian.
"Cuaca panas mempercepat proses pematangan buah dan hasil pertanian sehingga meningkatkan pasokan sejumlah komoditas di pasar, meski di sisi lain memperpendek masa simpan dan meningkatkan risiko kerusakan hasil pertanian," katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak pada penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Nabire dari 118,07 pada Juni menjadi 116,86 pada Juli 2026 atau mengalami deflasi bulanan sebesar 1,01 persen.
Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan penurunan sebesar 2,31 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 1,09 persen terhadap perubahan harga secara bulanan.
Ia menyebut, sejumlah komoditas yang paling besar menekan inflasi yakni cabai rawit dengan andil deflasi 0,54 persen, diikuti tomat 0,38 persen, kacang panjang 0,16 persen, daging ayam ras 0,08 persen, serta angkutan laut 0,07 persen.
Selain dipengaruhi peningkatan pasokan pangan, lanjut dia, kebijakan pemerintah memberikan diskon 30 persen tarif dasar tiket ekonomi kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) selama masa libur sekolah turut menekan tarif angkutan laut sehingga berkontribusi terhadap deflasi pada kelompok transportasi.
"Diskon tarif angkutan laut ikut memberikan pengaruh terhadap penurunan harga pada kelompok transportasi selama Juli," ujarnya.
Meski mengalami deflasi secara bulanan, BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year) Kabupaten Nabire pada Juli 2026 tetap berada di level 1,79 persen.
Ia mengatakan, inflasi tahunan terutama dipengaruhi kenaikan harga daging babi, bensin, emas perhiasan, tahu mentah, dan kangkung.
Ia menambahkan, BPS saat ini masih melaksanakan Pendataan Sensus Ekonomi 2026 yang berlangsung hingga 31 Agustus 2026.
Karena itu, ia mengimbau seluruh pelaku usaha dan masyarakat menerima kedatangan petugas sensus serta memberikan data yang jujur dan akurat guna mendukung penyusunan statistik ekonomi yang berkualitas.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































