Makassar (ANTARA) - Tim SAR gabungan terus berjuang selama 30 jam dalam melaksanakan evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di medan yang sangat sulit di wilayah Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).
"Tim harus menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang," kata Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar melalui keterangannya di Makassar, Selasa.
Sebagai koordinator SCM (SAR Mission Coordinator) ia menjelaskan proses evakuasi yang dijalankan tim SAR gabungan dengan teknik rappeling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat menabrak gunung setempat.
Arif mengemukakan 10 personel yang diturunkan berasal dari unsur Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam.
Setibanya di bawah, lanjutnya, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.
Baca juga: Medan ekstrem, Basarnas: Doakan keselamatan tim pencari korban ATR
Baca juga: BMKG ungkap ada awan Cumulonimbus di Maros saat kecelakaan pesawat ATR
Tim Rescuer SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban pertama yang ditemukan pada Minggu (18/1/2026) di medan yang sulit dalam operasi SAR pencarian para korban pesawat ATR 42-500 usai kecelakaan menghantam Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. ANTARA/HO-Dokumentasi Basarnas Makassar-SAR Gabungan.Rusmadi, salah seorang rescuer Basarnas Makassar yang turun langsung ke jurang melaporkan kondisi yang dihadapi tim di lapangan. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan dengan posisi tersangkut di dahan pohon pada pukul 13.43 WITA pada Sabtu (18/1/2026).
Setelah itu tim melakukan proses pembungkusan jenazah selama kurang lebih satu jam karena posisi korban berada di kemiringan kurang lebih 30 derajat dan tepat di bibir tebing.
Upaya pengangkatan jenazah sempat dilakukan ke arah atas sejauh sekitar 60 meter. Namun karena keterbatasan tenaga, peralatan, serta kondisi hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi lapangan.
"Namun setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah, menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan," papar Rusmadi.
Baca juga: Pemprov Sulsel dirikan dapur umum, layani tim pencarian pesawat
Namun selama proses evakuasi ke bawah yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras disertai kabut tebal dan suhu dingin menyelimuti area operasi, membuat pergerakan tim semakin terbatas.
Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.
"Kami turun dari titik dekat pegunungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.
Pada Senin (19/1/2026) siang hari berikutnya, lanjut dia, tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.
"Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya," kata Rusmadi.
Baca juga: Basarnas paparkan Operasi SAR hari ke-4 pencarian pesawat ATR
Tim kedua yang melanjutkan estafet evakuasi jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh 20 jam perjalanan pada Selasa (20/1) dan melanjutkan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso.
Selanjutnya menuju ke kampung baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan yang bervariasi. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana.
Rencananya, proses evakuasi masih dilanjutkan untuk dibawa ke Posko DVI Biddokes Polda Sulsel di Rumah Sakit Bayangkhara Makassar untuk dilakukan identifikasi
Sampai berita ini diturunkan, korban pertama masih berada di Kampung Lampeso. Diperkirakan jenazah tiba di Posko DVI Biddokes Polda Sulsel, Kota Makassar, pada malam hari.
Sejauh ini baru dua jenazah ditemukan dalam peristiwa itu, satu laki-laki dan satu perempuan yang belum diketahui identitasnya, serta serpihan pesawat dan barang pribadi korban yang terhambur di gunung setempat usai pesawat naas itu menabrak Gunung Bulusaraung.
Baca juga: DVI ambil delapan sampel DNA keluarga korban kecelakaan pesawat ATR
Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































