Jakarta (ANTARA) -
Dewan Pimpinan Daerah Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengharap pemerintah memastikan keamanan destinasi wisata sebelum mengeluarkan pernyataan resmi sebagai dasar bagi pelaku usaha untuk kembali mempromosikan kunjungan wisatawan pascagempa Flores.
Ketua DPD ASITA NTT Oyan Kristian mengatakan kepastian keamanan destinasi diperlukan agar wisatawan memperoleh informasi yang valid dan terverifikasi dari otoritas terkait sebelum melakukan perjalanan ke NTT.
“Yang sangat diperlukan saat ini adalah keseriusan pemerintah untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas infrastruktur yang ada di destinasi wisata. Infrastruktur jalan yang mungkin kemarin pecah, retak karena gempa, bangunan-bangunan yang mungkin menjadi kantor atau tempat wisatawan untuk duduk atau masuk, ya, termasuk keseluruhan destinasi objek-objek wisatanya juga harus dipastikan aman untuk dikunjungi wisatawan,” kata Oyan saat dihubungi ANTARA, Selasa (25/8).
Baca juga: Flobamora Papua Barat galang dana untuk korban gempa Flores
Ia mengatakan pemerintah perlu menerbitkan pernyataan resmi atau statement letter yang dapat menjadi pegangan bagi ASITA dan pelaku usaha perjalanan wisata dalam menyampaikan informasi kepada wisatawan.
Menurut dia, pernyataan tersebut harus memuat informasi yang valid dan telah terverifikasi sehingga memberikan kepastian kepada wisatawan mengenai kondisi destinasi.
“Kita membuat campaign yang baik tentang destinasi wisata yang aman. Itu harus disertai dengan satu surat pernyataan dari otoritas terkait, Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, dan juga stakeholder yang lain,” ujarnya.
Baca juga: BMKG NTT: Isu gempa besar 15 Agustus 2026 tidak benar
Berdasarkan laporan kondisi sektor pariwisata terdampak gempa Flores M7,7 yang diterbitkan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPO-LBF) per 24 Agustus 2026 pukul 19.00 WITA, sebanyak 11 daya tarik wisata masih ditutup sementara.
Laporan tersebut juga mencatat tujuh daya tarik wisata mengalami kerusakan ringan dan dua lainnya rusak berat. Sementara itu, tujuh daya tarik wisata telah kembali dibuka untuk wisatawan.
Oyan mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya asesmen terhadap fasilitas dan destinasi wisata sebelum pemerintah menyatakan suatu kawasan telah aman untuk dikunjungi.
Ia menilai pernyataan resmi pemerintah nantinya dapat digunakan agen perjalanan dan media untuk menyampaikan informasi mengenai destinasi yang sudah kembali berfungsi kepada wisatawan.
Baca juga: KKP data nelayan dan fasilitas perikanan terdampak gempa NTT
“Travel agent bisa menyampaikan kepada wisatawan bahwa kita ready, destinasi wisata siap untuk menerima wisatawan dan media juga melakukan campaign, membuat berita-berita positif bahwa destinasi wisata sudah pulih dan bisa menerima kunjungan wisatawan kembali,” katanya.
Oyan mengatakan kampanye positif tersebut perlu dilakukan secara bersama oleh pemerintah, pelaku usaha perjalanan wisata, media, dan pemangku kepentingan pariwisata lainnya.
Namun, ia menegaskan kampanye tersebut harus didukung kepastian mengenai kondisi destinasi agar informasi yang disampaikan kepada wisatawan memiliki dasar yang jelas.
Baca juga: 98 Resolutions Network salurkan bantuan untuk korban gempa di NTT
“Statement letter, pernyataan resmi dari pemerintah, surat harus dikeluarkan untuk menjadi legitimasi bahwa destinasi wisata itu sudah bisa dikunjungi atau sudah pulih dari bencana,” ujarnya.
BPO-LBF juga mencatat enam bandara di Flores telah kembali dibuka dan beroperasi normal. Informasi tersebut menjadi salah satu indikator pemulihan aksesibilitas pariwisata di wilayah Flores pascagempa.
Baca juga: TNI AL kerahkan kapal rumah sakit tangani warga terdampak gempa di NTT
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































