Anggota DPR minta InJourney dukung pengelolaan ekosistem pariwisata

3 weeks ago 9

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VIII DPR RI Novita Hardini meminta dukungan strategis PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) terhadap pengelolaan ekosistem pariwisata nasional, saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke InJourney, Jakarta, Kamis (15/1).

Ia menilai keinginan menjadikan Indonesia sebagai pusat pariwisata global masih jauh terlihat dari kesenjangan konektivitas yang belum ditangani secara serius.

"Hingga hari ini, ekosistem pariwisata belum dipandang sebagai satu kesatuan utuh, melainkan masih terpecah-pecah," ujar Novita, seperti dikutip dari keterangan di Jakarta, Sabtu.

Dia menjelaskan salah satu contoh konkret berupa transportasi bandara.

Menurutnya, kereta bandara yang ada saat ini belum ramah bagi wisatawan asing, minim informasi multibahasa dan informasi pemberhentian tujuan berikutnya, serta belum terintegrasi optimal dengan moda transportasi publik, seperti TransJakarta maupun sistem transportasi perkotaan lainnya.

Bagi wisatawan asing, kata dia, pengalaman pertama mereka tentang Indonesia dimulai dari bandara. Dengan begitu, apabila dari bandara saja sudah membingungkan maka Indonesia bisa kehilangan nilai jual sebagai destinasi global.

Ia melihat InJourney belum mampu memanfaatkan potensi destinasi wisata di sekitar bandara untuk menjadikan Jakarta sebagai destinasi transit yang menarik, bukan sekadar titik singgah.

Sebagai contoh, berbagai atraksi yang seharusnya bisa dikoneksikan secara sistematis dengan bandara, seperti factory outlet, pusat hiburan, dan wahana wisata tematik, yang dapat mendorong wisatawan asing untuk memperpanjang masa tinggal.

“Kalau transit 5–6 jam saja sudah bisa belanja, menikmati atraksi wisata, dan merasakan pengalaman Indonesia, maka perputaran nilai ekonominya akan jauh lebih besar,” tuturnya.

Novita pun membandingkan dengan Bangkok, Thailand, di mana jarak Bandara Svarnabhumi menuju factory outlet hanya sekitar 5-10 menit saja, sedangkan di Jakarta perlu menempuh waktu 1-2 jam menuju factory outlet atau atraksi wisata lainnya.

Dalam kesempatan itu, politisi dari daerah pemilihan Jawa Timur 7 tersebut mempertanyakan visi jangka panjang InJourney dalam memposisikan Indonesia sebagai hub global pariwisata, sebagaimana yang telah berhasil dilakukan oleh Singapura dan Abu Dhabi.

Dikatakan bahwa Singapura dan Abu Dhabi membangun hub pariwisata dengan visi jangka panjang yang konsisten, lintas sektor, dan terintegrasi.

"Pertanyaannya, visi besar InJourney ke depan itu apa? Bagaimana Indonesia bisa menjadi hub global di masa depan, mengingat posisi Indonesia sangat strategis," ucap Novita.

Menurut dia, Indonesia berada di jalur perdagangan dunia, yakni sebagai penghubung Asia-Pasifik dan Asia-Australia. Maka jika dikelola secara serius seharusnya Indonesia bisa lebih unggul daripada Singapura dan Abu Dhabi.

Tak hanya di Jakarta, dia turut melihat konektivitas bandara dengan destinasi wisata daerah yang belum optimal.

Ia menyebut wilayah seperti Yogyakarta dan destinasi unggulan lainnya masih menghadapi persoalan serupa, seperti minim integrasi antara bandara, moda transportasi yang sudah siap sedia menuju Borobudur, dan paket wisata UMKM sekitar.

Disebutkan bahwa bandara seharusnya bukan hanya menjadi tempat datang dan pergi, sehingga InJourney harus mampu membangun kolaborasi dengan maskapai global untuk dapat menjadikan Indonesia tempat tujuan dan destinasi transit dunia.

Dengan demikian, sambung dia, InJourney perlu mengoreksi bentuk Investasi yang diperlukan, bukan hanya berupa fisik, melainkan juga layanan dan memperkuat jaringan kolaborasi global dengan maskapai terkemuka yang sering dipakai wisatawan asing.

Selain itu, Novita menambahkan holding BUMN aviasi dan pariwisata tersebut juga perlu melakukan investasi teknologi lantaran belum adanya keseriusan dalam membangun konsep bandara pintar (smart airport) dan logistik pintar (smart logistic), sebagai tulang punggung pariwisata modern.

Dirinya berpendapat negara-negara yang sukses menjadi hub global telah menjadikan digitalisasi bandara, manajemen logistik, dan integrasi data sebagai keunggulan kompetitif.

“Kalau kita bicara hub global, maka smart airport dan smart logistic bukan pilihan, melainkan keharusan. Tanpa investasi teknologi dan peningkatan kolaborasi dengan jejaring superhub global, kita akan selalu tertinggal,” ungkapnya menegaskan.

Sebagai mitra kerja di komisi DPR RI yang membidangi pariwisata, dia menegaskan DPR akan terus mendorong InJourney untuk keluar dari pendekatan sektoral dan mulai membangun visi besar yang terintegrasi, lintas moda, lintas destinasi, dan berorientasi global.

Ditekankan bahwa Indonesia memiliki modal budaya, alam, dan pasar yang luar biasa, tetapi tanpa visi jangka panjang dan ekosistem yang terhubung, potensi itu akan terus terbuang.

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |