Bandung Barat (ANTARA) - Jarum jam mendekati pukul 06.00 WIB ketika sejumlah anak di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mulai bersiap menuju sekolah.
Seragam putih-merah sudah dikenakan dengan tas sekolah tersampir di punggung mereka saat bersama-sama berjalan menuju tepian Waduk Saguling, tempat sebuah rakit bambu telah menunggu untuk membawa mereka ke seberang.
Satu per satu anak menaiki rakit. Mereka duduk berdekatan sambil menjaga tas dan perlengkapan sekolah. Seorang warga kemudian membantu mengarahkan rakit menggunakan tali yang membentang di atas permukaan waduk.
Perlahan, rakit bergerak meninggalkan tepian Kampung Sadang menuju Kampung Gombong, tempat SD Negeri Budiharja berada.
Bagi anak-anak tersebut, perjalanan dengan rakit bukan pengalaman sesekali. Setiap hari sekolah, mereka menyeberangi Waduk Saguling untuk sampai ke ruang kelas dengan rakit.
Pemandangan itu mungkin terlihat tidak biasa bagi orang yang baru melihatnya. Namun bagi warga Kampung Sadang, menyeberangi waduk dengan rakit bambu telah menjadi bagian dari kehidupan selama puluhan tahun.
Kampung Sadang dan lokasi sekolah sebenarnya tidak terpisah terlalu jauh jika dilihat dari titik penyeberangan.
Namun, belum adanya jembatan membuat anak-anak harus memilih menggunakan rakit atau berjalan melalui jalur darat yang memutar.
Kepala SD Negeri Budiharja Taufik mengatakan jarak melalui jalur darat dari Kampung Sadang menuju sekolah mencapai hampir empat kilometer.
Dengan berjalan kaki, perjalanan anak-anak dapat memakan waktu sekitar setengah jam. Kondisi itu menjadi semakin terasa karena siswa kini harus sudah berada di kelas pada pukul 06.30 WIB.
“Makanya untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan semangat untuk sekolah itu mungkin, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya sampai dari sana ke sini 10 menit juga atau 5 menit. Itu sangat diperlukanlah jembatannya,” ujar Taufik.
Saat ini terdapat 16 siswa SD Negeri Budiharja yang masih menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.
Mereka terdiri atas tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.
Bagi sekolah, persoalan tersebut bukan hanya mengenai jarak tempuh, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan akses anak-anak dalam memperoleh pendidikan.
Pagi seorang ibu
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































