Kota Bogor (ANTARA) - Pernahkah kita menyadari bahwa kini banyak keputusan kecil dalam hidup dibantu oleh mesin? Mulai dari rekomendasi video sosial media atau penyedia film online yang muncul di layar telepon selular, koreksi otomatis saat mengetik pesan, hingga jawaban instan atas pertanyaan yang kita ajukan di internet.
Semua itu terjadi tanpa kita harus memahami cara kerjanya.
Di balik kemudahan tersebut, kecerdasan buatan (AI) diam-diam hadir dan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. AI bukan lagi mimpi di siang bolong atau sekadar imajinasi dalam novel fiksi ilmiah, melainkan teknologi nyata yang kini berada di genggaman tangan melalui peramban di telepon pintar.
Disadur dari salah satu artikel IBM, kecerdasan buatan atau AI adalah teknologi yang memungkinkan komputer dan mesin meniru kemampuan kognitif manusia, seperti pembelajaran, pemecahan masalah, serta pelaksanaan tugas secara otonom. Cakupan AI sangat luas, namun secara umum, AI dapat diklasifikasikan menjadi dua pendekatan utama, yaitu Predictive Model AI dan Generative Model AI (Gen-AI).
Predictive Model AI berfokus pada analisis data untuk mengenali pola dan memprediksi kejadian atau nilai di masa depan. Pendekatan ini banyak digunakan untuk tugas-tugas, seperti dalam sistem rekomendasi video, prediksi risiko saham, atau diagnosis berbantuan komputer. Model ini tidak menghasilkan konten baru, melainkan memberikan estimasi atau keputusan berdasarkan data yang telah dipelajari sebelumnya.
Sebaliknya, Gen-AI dirancang untuk menghasilkan konten baru yang menyerupai data aslinya, seperti teks, gambar, audio, maupun kode program.
Pendekatan inilah yang belakangan melonjakan popularitas melalui aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan platform sejenis. Gen-AI tidak hanya memprediksi, tetapi juga “menciptakan” keluaran baru berdasarkan pola dan pengetahuan yang dipelajari dari data dalam jumlah besar.
AI sudah merambah ke semua lini, termasuk lini kesehatan. Di tingkat global, integrasi AI ke dalam sistem kesehatan bukanlah merupakan suatu tren, melainkan menjadi suatu kebutuhan.
Penerapan AI dalam bidang kesehatan yang paling menonjol adalah pada bidang diagnostik dan penemuan obat. Predictive model menggunakan Deep Learning kini mampu membaca hasil "gambar" medis seperti X-Ray dan MRI sehingga memudahkan tenaga medis untuk mendiagnosis dengan tingkat akurasi yang lebih baik.
Gen-AI juga banyak digunakan di bidang kesehatan, semisal untuk merekomendasikan senyawa obat baru, bahkan untuk menyediakan info target obat di dalam tubuh. Cara kerja inilah yang menjadikan Alphafold dan Rosetta, suatu platform berdasar model Gen-AI, mendapatkan penghargaan Nobel di bidang kimia tahun 2024.
Walaupun kemajuan penggunaan AI sangat pesat belakangan ini, namun di bidang kesehatan khususnya, banyak hal yang perlu diperhatikan.
Tantangan utama adalah etika dan keamanan data yang selalu menjadi isu hangat. Belum lagi apabila AI salah melakukan diagnostik, tidak mungkin meminta pertanggungjawaban ke mesin. Karena AI yang paling hebat sekalipun, tidak bisa 100 persen memprediksi secara tepat untuk semua kasus, sama seperti manusia.
Namun secara umum, dunia medis sepakat bahwa manfaat AI dapat melampaui risikonya bila diterapkan sesuai regulasi yang tepat. Oleh karena itu, beberapa badan pengawas obat, contohnya di Eropa, sudah merilis peta jalan pengembangan AI di bidang kesehatan untuk menyikapi hal ini.
Kondisi Indonesia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































