Jakarta (ANTARA) - Perusahaan identitas digital dan keamanan siber VIDA meluncurkan ID FraudShield sebagai teknologi terpadu yang menggabungkan verifikasi biometrik dengan analisis perangkat dan deteksi penipuan secara real-time secara terintegrasi.
Peluncuran ID FraudShield dilatarbelakangi oleh perkembangan modus penipuan daring yang tidak lagi hanya menyerang melalui manipulasi wajah, tetapi telah berpindah ke perangkat, jaringan, perilaku pengguna, hingga transaksi itu sendiri.
"Untuk menangani metode penipuan ini, satu lapisan verifikasi saja tidak lagi cukup. Ada tiga faktor yang harus diverifikasi secara bersamaan yakni orangnya, identitasnya, dan perangkat yang digunakan,” kata Founder dan Group CEO VIDA Niki Luhur dalam acara peluncuran di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan, para pelaku penipuan daring kini memanfaatkan metode yang lebih mutakhir dalam menjalankan aksinya, seperti injection attack yang menyisipkan gambar palsu langsung ke dalam sistem verifikasi.
Baca juga: Kemenko Polkam tekankan penguatan keamanan siber dalam implementasi SPBE
Selain itu, mereka menggunakan emulator farm untuk menjalankan ribuan identitas dan perangkat tiruan agar aksi penipuan tidak terdeteksi, serta GPS spoofing untuk memalsukan lokasi. Semua teknik ini sengaja dikembangkan agar dapat melewati pemeriksaan biometrik tanpa terdeteksi.
Platform keamanan siber ini menjalankan dua alat secara bersamaan dalam satu teknologi. Alat pertama yakni Biometric Liveness Detection yang memastikan kehadiran manusia yang nyata dan mencegah deepfake, spoofing, serta screen replay atau upaya menampilkan ulang video atau rekaman wajah di layar untuk mengelabui sistem seolah-olah itu adalah interaksi langsung.
Alat kedua adalah ID FraudShield yang didukung oleh agentic risk platform dari Sardine yang memiliki visibilitas terhadap lebih dari 5,4 miliar profil perangkat, dirancang khusus untuk mengatasi penipuan di sektor keuangan.
Teknologi ID FraudShield bekerja dengan menganalisis sinyal perangkat dan perilaku pengguna secara real-time. Tujuannya adalah mendeteksi indikasi fraud yang mungkin terlewatkan oleh pemeriksaan biometrik.
Baca juga: Kemkomdigi tekankan aspek "digital trust" untuk jaga keamanan siber
Untuk setiap sesi verifikasi, ID FraudShield mengevaluasi berbagai indikator risiko dan memberikan skor, mulai dari risiko rendah hingga risiko kritis.
“Kami membangun solusi ini karena melihat sendiri bagaimana penipuan bisa lolos dari liveness tanpa terdeteksi. Di saat yang sama, banyak perusahaan sebenarnya kurang memiliki visibilitas untuk mengenali risiko tersebut. Lewat teknologi ini, kami ingin membantu industri mendeteksi fraud yang sebelumnya tidak terlihat,” kata Niki.
Baca juga: Kapolri terima Adhi Bhakti Senapati atas kontribusi keamanan siber
Baca juga: VIDA jelaskan aspek penting perkuat keamanan siber industri keuangan
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































